Pengalaman Tilang

Di sela-sela mengotak-atik bonsai tak jarang Bonsai Biker keluyuran touring ke berbagai kota, kadang sendirian, kadang berdua, kadang bareng teman. Kondisi situasi touring terkadang pasti juga berbeda-beda tergantung di mana kita berada.  Kadang mengalami situasi sangat mengantuk, kadang tidak tahu jalan kota hingga kebablasa, kadang menjumpai peraturan yang berbeda dengan kota lain. Kondisi tersebut tak jarang membuatku secara tak sengaja melanggar karena ketidaktahuanku hungga kena tilang.

Pengalaman pertama tilang adalah ketika temanku membawa motor pajaknya mati 7 tahun, tanpa SIM, salah jalan. Peristiwa ini terjadi di Pondok Gede Bekasi sekitar tahun 2004. Berawal dari teman yang tidak tahu jalan dan salah jalur, maka di berhentikan polisi, dari situlah petaka berawal, polisi tahu setelah memeriksa kalau pajaknya mati 7 tahun, tanpa SIM, akupun baru tahu kalau temanku tak memiliki SIM. Kemudian polisi meminta kendaraan untuk di sita sebagai barang bukti, setelah negoisasi ,emjadi denda Rp. 750.000, setelah negoisasi turun menjadi Rp. 500.000, aku pun menjadi tertarik untuk beradu argumen dan beradu mental karena bisa turunnya harga tilang tadi, setelah debat panjang akhirnya denda hanya Rp. 50.000 tanpa memberi surat tilang

Pengalaman ke dua ketika touring lewat Semarang berdua dengan abangku, waktu itu tahun 1995, peraturan helm cetok masih boleh di banyak daerah, ketika kami lewat Semarang ternyata di sana sudah mengharamkan helem cetok, sementara abangku yang aku bonceng masih pakai helem cetok. Kontan kami di tilang, dengan menyodorkan surat tilangnya Polisi mengharuskan saya datang 4 hari kemudian di kepolisian Semarang di tambah berbagai basa-basinya yang menakuti mentalku.  Di situ terlihat polisi berada di atas angin karena rumhku yang jauh di Magetan pasti enggan untuk datang 4 hari ke depan, maka damai jalan terbaik yaitu tilang bawah tangan, setelah negoisasi akhirnya sepakat bayar Rp 35.000 tanpa memberi surat itlang.

Pengalaman ke 3 terjadi di Cililitan jakarta timur, ketika aku salah jalan. Polisi langsung membunyikan pluitnya memberhentikan aku, dia langsung menawarkan damai atau tilang, akhirnya disepakati membayar Rp. 10.000. Ini terjadi sekitar tahun 2006

Pengalaman ke 4 ketika berada di wilayah nganjuk dengan kondisi 6 hari setelah lebaran aku dan abangku kikuk melihat perubahan jalur lebaran, mengingat lebaran telah usai tapi jalur masih belum berubah, seketika itu kamipun salah jalur dan langsung diberhentikan polisi, kami dibentak, kemudian di suruh masuk kantor. Dengan berbekal pengalaman di berbagai tempat tadi kamipun dengan tenang masuk kantor, dan sebelum polisi ngomong kami langsung angkat bicara “tilang aja pak”. Pak polisi pun menerangkan tilang bisa di bayar di pengadilan, di Bank atau di tempat,  kami sekali lagi bilang tilang aja karena uang kami hanya Rp. 10.000, setelah sekian lama adu argumen akhirnya polisi menerima uang ceban yang kami bawa tanpa memberi surat tilang.

Pengalaman ke 5 ketika aku berboncengan dengan temanku di Magetan kota kelahiranku sekitar tahun 2007. Ketika itu temanku membawa helem full face tapi lupa dikenakan, hanya di pegang saja, kebetulan pas ada razia, kamipun langsung minggir dan kami diberitahu kesalahan kami, dengan senyum ramah tanpa nego pak polisi langsung menulis surat tilang dan diberikan kepada kami untuk bayar Rp. 15.000. Tanpa rasa dongkol sedikitpun kami langsur bayar tilang sambil mengenakan helem terus melanjutkan perjalanan. Dalam hati kami alangkah jujurnya pak polisi tadi, coba semua polisi seperti beliau aman negara ini, tanpa korupsi.

Pengalaman belakangan pada akhir 2009 di daerah Ngawi aku beserta istri dan anakku yang masih kecil lewat daerah tersebut dan kebetulan ada razia. Dengan penuh senyum sapa pak polisi menegur kami, dan menayakan surat-surat, belum sempat kami buka surat-surat kendaraan, pak polisi mempersilakan kami melanjutkan perjalanan karena melihat anak kami sedang tidur, beliau pesan semoga cepat sampai, karena kasihan anak kecil kami. Alangkah baiknya pak polisi ini, begitu terlintas pikiran dalam bneaku.

Sedikit analisa, bahwa diantara polisi memeang ada beberapa oknum yang suka tilang tanpa memberi surat tilang dan harga yang harus dibayarkan tak jarang jauh melebihi harga tilang itu sendiri. Maka sekedar saran bahwa sebaiknya kalau melanggar mending minta surat tilang yang harganya sudah di tentukan. Atau kalau ingin main damai sebaiknya ajukan opsi tilang, jangan mengajukan dulu opsi damai sebelum polisi sendiri yang memintanya. Kalau kita yang memintanya biasanya harga damai lebih tinggi daripada harga tilang, sebaliknya kalau polisi sendiri yang memintanya harga damai akan jauh lebih rendah dari harga tilang.

Advertisements
Advertisements

29 Comments

  1. Kasihan sekali polisinya itu masih sangat butuh sekali uang. Lha wong dari tarif 750 ribu koq mau ditawar jadi 50 ribu. Pedagang Malioboro saja ndak ada yang mau ndiskon sebanyak itu … hhhmmm kasihan ya polisinya 🙂 hehhhee

    Salam bentoelisan
    Mas Ben

  2. wah jan brarti polisi Ngawi sing paling sopan ya mas bro???
    Sebagai warga ngawi saya jadi ikut bangga…xixixixixi

    klo pengalamanQ bolak balik kena tilang di madiun mas bro..
    Pas jamas sekolah mbiyen, numpak montor sik sakpenake dewe model alay-alay…
    He..he….

  3. mesti neng dalan menggak-menggok mangkleng kuwi mas, soale sering banget cegatan neng kono, opo maneh pas dino minggu…

    Jalan2 tujuane ngendi mas?? Jamus ta??

    • teko panekan mas lewat kendal terus nyang ngrambe desa pehnongko nggone koncoku, terus nyang sine muter-muter golek jalan berkelok ngopi asik tenan, sampean nduwe fb ora? utowo no hp, kapan2 tak parani

  4. Waaah mantap nie usul,
    Salam kenal bro, n’ makasih masukan’a.
    Semoga Berguna (mang Opik mode: on)

  5. dari 6 pengalaman di atas berati dari 6 orang polisi di indonesia cuma 2 orang yang baik dan jujur, menyedihkan….

    sarannya boleh juga nih… trims kang sudah berbagi

Monggo Tinggalkan Komen Sini Gan, Isian Kolom 3 Pake http://www.... Bila Susah Kosongin