Onda Badel Di Rumah Kami # 2 (GL PRO 1985) | Bonsaibiker

Onda Badel Di Rumah Kami # 2 (GL PRO 1985)

Setelah CB 100 Onda bandel di rumah kami selanjutnya adalah motor Honda GL Pro 146 cc lansiran 1985. Motor ini secara keseluruhan masih original kecuali pelek yang sudah mengaplikasikan palang tiga, maklum kan penunggangnya masih muda. Berbeda dengan generasi GL Pro Neo Tech yang 160 cc, dapur pacunya masih 146 cc, akan tetapi soal tenaga tak kalah yahud sama adik kandungnya tersebut, karena kompresinya “disinyalir” (pinjem gaya bahasa TMC) lebih tinggi. Hal iniu bisa dilihat ketika melakukan kick starter apabila tidak nyala akan memberi efek tekanan balik ke kaki hingga berasa kesemutan.

Bersama motor kami telah mengukur banyak ruas jalan pulau Jawa, mulai dari ruwetnya laulintas Jakarta, tanjakan yang terjal macem gunung Lawu Magetan, Batu Malang, Pacitan, hingga jalan ambles di Lapindo. Motor ini juga pernah melewati rumah Wiro S. Purwoko, Mario Devan, Tongsam, Bagus Prupus, Pendekar Tai Cucak, Pak Kepala Suku, Bang One, Lingga, MR, Terong, hingga brader-brader yang di Jakarta dan sekitarya macem Senalpot,  lek Dji, Shark, Sbdo, JA, dll, yang tak mungkin saya sebutkan satu persatu di seantero pula Jawa ini. Sayangnya dulu ketika lewat saya belum mengenal beliau-beliau ini sehingga belum bisa kopdar.

Bersama motor ini juga sudah banyak kenangan yang susah untuk dilupakan begitu saja. Pernah suatu ketika kami akan jatuh ke jurang terjal di Pacitan gara-gara pengendara dan boncenger dua-duanya tertidur saat melintas di perbukitan Pacitan saking kantuknya akibat sudah 2 hari touring. Pernah juga motor ini Mati lampu ketika jam 3 pagi di Alas Roban yang dulu belum ada jalan tembusnya.

an yang paling unik adalah motor ini pernah dikendarai bertiga menempuh jarak beberapa ratus KM dari Magetan ke Malang. Ketika itu tiga penunggangnya berbobot masing-masing 65 KG, jadi berat penunggang keseluruhan sekitar 195 KG. Waktu itu bukan maksud kami tak mematuhi aturan lalulintas, itu lebih karena keterbatasan kabi soal financial. Salah satu tetangga kami ada yang terkena gangguan jiwa hingga kami harus membawa ke Malaang untuk berobat. Maka apabila hanya dibonceng berdua kami hawatir dia kabur begitu saja, dan bila naik mobil tentu akan besar biayanya, maka kami putuskan bertiga si Sakit di tengah. Memang sepanjang jalan kami selalu dicegat polisi, ada diantara polisi itu yang dimaki-maki si sakit, ada juga yang  langsung diragkul sok kenal, ada juga yang dicium tangannya, pokoknya macem-macem ulahnya. ALhamdulillah Pak Polisi mengerti kondisi kami sehingga tak di tilang. Alhamdulillah lagi si sakit sekarang udah seperti sedia kala, bekerja, berusaha layaknya manusia seutuhnya.

Terimakasih om GL 146 atas pengabdianmu yang membuat kami enggan berpisah darimu.

Advertisements
%d bloggers like this: