Pluralisme Dalam Agama, Pluralisme Dalam Ngeblog

Warning: Silakan Baca dengan hati-hati dan dengan HATI!

Brader seklian, setahun sudah Gus Dur, Bapak Pluralisme kita meninggalkan dunia yang fana ini. Ketika Beliu meninggal, seluruh komponen bangsaa mendoakan beliau, baik yang Islam, Kristen, Hindu, Buda, maupun Konghucu. Seluruh suku bangsa di negeri ini jug mendoakan, juga tak terkecuali etnis Cina. Demikianlah kira-kira hasi dari pluralisme yang digemborkan Gus Dur, meski sebagian lain mencibirnya, bahkkan menganggapnya kafir, namun persatuan dan kesatuan bangsalah yang beliau cita-citakan. Islam yang ramah, damai dan jauh dari arogansi serta kekerasan yang tak harus dilakukan.

Pluralisme sebenarnya keberagaman dalam suatu komonitas. Dalam diri bangsa indonesia terdapat keberagaman dari sisi suku agama dan budaya, ketika berbicara mengenai pluralisme maka intinya adalah seperti dalam Bhineka Tunggak Ika, berbeda-beda tapi tetap satu jua, penuh tenggang rasa, saling mengerti dan saling menghargai. Dulu ketika zaman Nabi Muhammad SAW terjadilah pluralisme ini, dimana Rasulullah membuat sebuah piagam yang namanya Piagam Madinah yang menytukan berbagai umat beragama baik Islam, Kristen, Yahudi bahkan orang kafir yang tak memerangi orang islam untuk hidup rukun saling menghormati dalam sebuah bingkai negara Islam yang berpusat di Madinah. Berjanji untuk tak saling serang, berjanji untuk mempertahankn negara yang sama, namun tetap pada agama yang berbeda seperti dalam surah al-Kafirun لكم دينكم ولي دين Untukmu agamamu an untukku agamaku’. Surat ini sebetulnya sebagai jawaban bagi orang kafir atau musrik yang menyembah berhala yang lalu mengajak Nabi muhammad beribadah bergantian, ketika waktu sholat orang kafir ikut sholat, dan ketika waktu ibadah berhala umat Islam diajak menyembah berhala. Lalu Allah menurunka wahyu secara tegas menolak pencampur adukan agama. Nah disinilah terjadi pluralissme artinya semua beribadah menurut keyakinan masing-masik tapi tak saling serang.

Konsep pluralisme sebenarnya mengandung 2 makna yaitu eksternyal dan internal. Pluralisme eksternal adalah toleransi beragama dimana masing-masing agama menjalankan ibadah sesuai agama masing-masing, dengan tetap rukun saling menghormati dan menghargai, tak saling ejek dan saling serang. Sementara Pluralisme Internal adalah Keberagaman pendapat dalam internal agama, seperti dalam Islam ada NU, Muhamadiah, Persis, Syiah, Salafi atau Wahabi, atau yang lain yang saling menghormati, memahami, tidak saling serang atau bahkan saling mengkafirkan. Demikian juga dalam mazhab, ada mazhab Syafii, Mliki, Hanbali, dan Maliki dimana antar mazhab tak saling serang atau menjatuhkan. Yang jelas pluralisme ini sudah jauh hari diramalkan oleh Rasulullah dalam riwayat Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: Sabdanya:” “Umat Yahudi nanti akan terbagi menjadi 71 golongan, umat Nasrani nanti akan terbagi menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan.” Abdullah bin Amr bin Al-Ash meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Akan terjadi pada umatku sebagimana yang telah terjadi pada Bani Israil. Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan dan umatku akan pecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu golongan”. Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, siapa yang satu golongan itu?” Rasulullah SAW bersabda: “Yaitu golongan yang mengikuti sunnahku dan sahabatku.”

Nah bagaimana dengan Dunia blog? Ini juga terjadi pluralisme misalkan ada faham atau wacana yang ingin sebaiknya blog disatukan dalam sebuah wadah baik itu blog otomotof atau blog non otomotif. James Bons menggolongkan ini dalam Pluralisme Eksternal, karena bidangnya beda-beda. Lalu dismping itu ada banyak wacana yang berkembang dalam dunia blog otomotif, apakah blog itu mandiri dengan menolak sponsor atau campur tangan ATPM, atau seiring dengan ATPM, sering berrinteraksi, main sponsor, iklan, ratcoen test ride, dan sebagainya. Nah dalam hal ini si blog-blog ini masih satu agama dalam tanda kutip yaitu yang dibahas masalah otomotif juga to! Maka James Bons menggolongkan ini dalam ktegori Pluralisme Internal, yaitu internal antara blog-blog otomotif. Lalau bagaiman sebaiknya? Menurut james Bons ya kita sudah sama-sama dewasa, pasti tahu jalan pikiran orang yang tak akan sellu sama, maka arogansi, perpecahan, penyaahan, dan sebagainya tak lebih hanya akan menghancurkan kita sendiri sebagai insan blogger. Mari kita berbeda, berdebat, berselisih faham, tapi tetep dalam korodor persatuan, tak ada dendam, tak ada yang menggurui, semuaya sama, masih belajar dan terus akan belajar hingga akhir hayat.

Advertisements
Advertisements

73 Comments

  1. nice artikel pak bonzz..

    saya suka ini.. (biarpun kadang ane sendiri belum bisa 😀 )

  2. aku ngikut aliran ini.
    luweh…
    mboh…..
    ratakon…..
    sakkarepku dewe.
    titik

    =========================
    atau seiring dengan
    ATPM, sering berrinteraksi,
    main sponsor, iklan, ratcoen
    test ride , dan sebagainya.
    =========================

  3. maap pak bons,diriku masih tidak setuju dg pluralisme agama.toleransi oke,tapi pluralisme..maap aja.

    Walo gitu,tetep jaga paseduluran aja.

  4. yups..get the point, jangan memaksakan kehendak jikalau yg bersangkutan sudah memilih pilihannya. Lebih afdol memberikan tauladan (contoh), berlomba-lomba dalam kebaikan & saling mengingatkan. otreh? 😉

  5. boleh sih,tp jangan aneh2! kalo ada penumpang kapal kehausan dan melubangi kapal untuk mencari air…yo tetep tak pithes! selama aman terkendali sih luweh!

  6. Sebenarnya kata yang tepat adalah TOLERANSI, bukan pluralisme, karena setahu ane adalah bahwa pluralisme itu seperti menganggap semua agama itu sama saja… (biasanya yg dijadikan alasan knp sama adalah sama2 mengajarkan kebajikan) Jadi jika orang muslim menganggap agama lain sama saja dengan agamanya maka itulah kesesatan pemahaman terhadap akidah agamanya sendiri…
    Piagam Madinah itu bentuk Toleransi bukan Pluralisme.
    Ane menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama tapi tidak semerta-merta menyamakan agama ane dengan agama lain seperti yang diajarkan paham Pluralisme…
    Makanya turunlah firman Lakum dinukum Wa Liyadin yang bisa juga disimpulkan bahwa agamamu dan agamaku tidaklah sama. Namun silakan menjalankan ibadah masing-masing tanpa saling mengganggu…
    Begitulah pandangan ane, namun ane tidak memaksakan pemahaman ane di atas kepada siapapun…

    • monggo saja, Bebas berpendapat mas bro, yang penting tak ada dendam, dmai.
      Kalau kita lihat ke dalam pluralisme dimaknai terlalu sempir memang artinya kesamaan semua agama sesuai penilaian kaum wahabi terhadap Gus Dur, namun bila tanpa memandang arti itu dari siapa yang mengumandangkan dalam artian tidak anti Gus Dur, maka plural itu sebuah kemajemukan, keberagaman yang didalamnya butuh toleransi, di mata negara jelas semua agama sama, siapa sih yang mau dibilang agamnya kelas 2 atau 3. Namun sebgai umat Islam tetap menganggap ISlam yang paling benar namun tak serta-merta memerangi orang lain.

  7. Ane tambahin dikit biar gak keliru menafsirkan pendapat ane..
    Jadi intinya, menurut ane pluralisme itu mengakui keberagaman suku, budaya, ras/warna kulit, sampe keberagaman blogger dengan idealismenya masing2 – dengan saling menghargai dan menghormati karena pada dasarnya semua itu sama… Hak asasinya juga sama… Tidak dibeda-bedakan, namun untuk agama, ane meyakini agama ane tidak sama dengan agama lain… Namun ane tetap menjunjung tinggi toleransi terhadap agama lain, menjunjung tinggi kedamaian dan keharmonisan antar umat beragama seperti yang diajarkan oleh Rasulullah…

    • tul seep mas bro, agama daris sisi bahwa ia mengajak untuk kebaikan itu sama semua agama gitu, tapi dari sisi bagaimana meyakini agama dan menjalankan ajaran yo pasti ndak sama. Lalu kita memang harus menganggap agama kita paling benar, kalau nggak ya ngapain memeluk islam. Seep
      inti pluralisme ya sesuai al-Kafirun saja

  8. mudeng mangsude sampeyan, seperti slogan “apapun makanannya minumnya teh botol *****”. yang penting jaga tasamuh, tawazun dan i’tidal, jangan lupa ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah basyariah dan yang paling penting ukhuwah bloggeriah

    • betul, tapi arti kata sebenarnya adalah majemuk, beragam, lalu dari ragam itu diwacanakan kesatuan keharmonisan dari sisi hubungan antar manusia yang harmonis saling tenggangrasa.

  9. Masih mencoba memahami pluralisme, namun ketika pada sentuhan ke akidah, maka seperti membandingkan kota kota di Indonesia. Bandung, Jakarta, Medan, Manokwari.
    Sama sama terletak di Indonesia, namun historis dan demografisnya sangat jauh berbeda.
    *mbulet yo masbro, aku dewe bingung*

    • ya begitulah, berbeda, semuanya beda, artinya saja plural, jamak, bermacam-macam, cuman dirangkul dalam satu hubungan yang apik, tak memaksakan kehendak sling menghorati gitu, judulnya sama-sama agama tapi namanya beda islam krisen, dll. Lalu sama-sama kota judulnya, namun namanya dan historisnya beda se[erti bansung, jakarta dll.

    • heheh tenang untuk yang ini sudah saya perhitungkan masak-mask om, bahaya, tapi lebih bahaya lagi kalau tak diungkapkan dan orng tak tahu, supaya kita tidak menjadi katak dalam tempurung, debati itu mencerdaskan, bedapendapat itu berkah, yang penting nggak ada dendam.

  10. setiap agama mengajarkan kebaikan
    trus kl ad bangsa yg merampas tanah bangsa lain atas dasar agama yg mereka anut bgmn, tanah yg dijanjikan ktnya, preeet
    hati sy sakit kl kepikiran ni
    bgmn seandainya bangsa kita yg ngalamin

Monggo Tinggalkan Komen Sini Gan, Isian Kolom 3 Pake http://www.... Bila Susah Kosongin