Ngeblog dan Komentar Butuh Kearifan | Bonsaibiker

Ngeblog dan Komentar Butuh Kearifan

BonsaiBrader sekalian, ngeblog adalah ibarat belajar pendewasaan diri, belajar sabar, masuk akal, tenang saat dihujat, pandai melerai, cantik bermain kata, cermat dalam menganalisa, akurat dalam memainkan data, dan indah dalam beranalogi, itu apabila kita berandai-andai konotasi positif. Sementara bila kita berprasangka negatif ngeblog itu pandai membual, pinter ngeles, jago ngarang cerita, ngompor sampek hangus, bahkan lebih hebat lagi jualan sampek berbusa. Disinilah butuuh kearifan dalam ngeblog dimana ketika itu kita menghadapi orang banyak yang dtang dengan berbagai macam perbedaan latarbelakang, baik pemikiran, gaya hidup, pendidikan, lingkungan dan sebagainya. Lihat bonsai ini teduh, wibawa, damai dan penuh kearifan meskipun dia banyak mengalami kesengsaraan!

Demikian juga komentator, kalau kita semua punya niatan baik dalam berkomentar, monggo komentar sepedas apapun yang penting masuk akal, setajam apapun yang penting berdasarkan fakta, sekritis apapun yang penting tepat ketika benranalogi. Takperlulah kiranya mengatakan ini sudah dibahas, itu sudah dibahas, toh semua blog otomotif sama bahasannya tentang seputar mesin angkut ini. Tak perlu kiranya dikulik-kulik darimana asal si berita toh seorang blogger gentle selalu mencantumkan referensinya dibawah atau disela-sela tulisannya. Kalau nggak masuk akal bilang saja itu kabar yang nggak masuk akal toh pembaca yang menilai. Nah bila sampean punya niatan kurang baik silakan saja berkomentar tidak masuk akal, toh tetap DILARANG MELARANG, namun resikonya pasti tak akan mendapat respek dari orang lain. Kalau mau menghujat seseorang, baik itu blogger atau komentator, monggo saja tapi tanggung sendiri jikaau anda nanti tak dihargai orang. Komentar itu butuh kearifan, berbicara itu butuh pemikiran. Biasakan berfikirlah sebelum bicara sebelum anda dituntut berfikir keras akibat pembicaraan anda yang tak didasari pikiran! Pikirkan apakah kiranya yang akan anda katakan diterima atau ditolak mentah mentah oleh orang karena andahanya mengandalkan emosi belaka. Disinilah kearifan itu dibutuhkan sebagai pendewasaan diri ketika berhadapan dengan orang banyak yang dituntut untuk saling menghargai, menghormati dan mengerti. Lihat bonsai di atas teduh, wibawa, damai dan penuh kearifan meskipun dia banyak mengalami kesengsaraan!

Advertisements
%d bloggers like this: