Brader sekalian, ketika beberapa tahun terkahir banyak kabar mengatakan bahwa Sumber Kencono dibakar oleh masyarakat yang kesal karena ulahnya yang ugal ugalan ngebut di jalanan. Kabar terahir sekitar pertengahan September lalu terjadi kecelakaan yang melibatakan ebuah Elef dan Sumber Kencono yang menyebabkan 20-an orang meninggal. Ya kejadia seperti ini nampaknya sedah menjadi bumbu yang tiap saat mewarnai Sumber Kencono ini. LEbaran tahun kemarin SK dibakar di Ngawi karena menabarak 2 pengendara motor hingga tewas, lalu beberapa saat berselang terulang hal serupa di derah nganjuk. Dengan beberapa hal dia stas SK pun mendapat gelar SUmber BEncono dari masyarakat.

Namun kini setelah banyak kejadian berlalu dan boleh jadi mendapat teguran keras dari pihak berwajib, da bahkan sempat diisukan bakal di cabut izinnya, sumber Kencono tak lagi ngebut. Awal bulan ini Ketika James Bons menyempatkan diri naik bus ini pada waktu malam dari Solo ke madiun yang dulunya bisa ditempuh dengan 1,5 jam karena ngebut, kini harus sampai 3 jam dengan tidak ngebut. Ini pertanda baikkah? Semoga.

Satu hal yang sering menjadi pertanyaan adalah seringnya terjadi kecelakaan, lalu seringnya isu izin trayek mau dicabut,tapi hinga kini tak ada kejelasan. Bahkan meurut ulasan kompas ada sesuatu dibalik itu semua :

Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya Deddy Prihambudi, Rabu (14/9/2011), menyatakan, polisi mengabaikan data dan fakta lain yang bisa memberatkan bus Sumber Kencono. ”Selain itu, masih banyak saksi yang belum diperiksa, seperti para korban yang masih dirawat di rumah sakit karena belum bisa dimintai keterangan,” katanya. Fakta dan data yang diabaikan, antara lain, lampu depan bus Sumber Kencono yang mati saat terjadi kecelakaan. Posisi minibus yang terseret bus sekitar 12 meter yang diduga karena kecepatan bus sangat tinggi. Pengakuan kernet bus bahwa bus berjalan miring sebelum tabrakan terjadi. Ditambah lagi soal kesimpangsiuran hasil penyelidikan olah tempat kejadian perkara, baik sesama polisi maupun Dinas Perhubungan dan Jalan. Misalnya, menurut polisi, bus sudah mengerem 45 meter, Dishub mencatat 20 meter, dan polisi lain mengatakan bekas rem kendaraan lain yang melaju di belakang bus Sumber Kencono. Deddy mengatakan, kebenaran polisi bukan kebenaran tunggal. Keluarga korban berhak menggugat bus Sumber Kencono maupun travel dan Polri sekaligus. Pihak travel harus berani melakukan komplain kepada Sumber Kencono. Deddy merasa ada yang aneh dalam hubungan antara manajemen Sumber Kencono dan polisi. ”Bukankah Sumber Kencono telah sering diperingatkan oleh Polri?” tandasnya.

Boleh jadi ketidakngebutan bis ini karena hanya setelah terjai insiden, lalu bila telah berselang waktu beberapalama si bis ngebut lagi. MMM, semoga saja lebih baik!

Advertisements

8 Comments

  1. nama di body samping bisnya sudah diganti lho mbah Bons, jadi Sumber Selamat..tapi ada juga yg masih SK

    KAlo kelakuan di jalan? no comment dah

  2. Kalao bus ngebut itu udah wajib dan umum dilakoni semua supir… Supir nyawanya banyak.. Sebaiknya didalam bus ada alat pendeteksi kecepatan dan terhubung langsung sama PO Biar tau supirnya ngebut/ gak.. Atau malah PO nya yang suruh ngebut… Supaya byak sngkutan.. Kan banyak uangnya.. Kali… Hanya jadi cerita yang menyedihkan bagi keluarga korban..

Monggo Tinggalkan Komen Sini Gan