Pengalaman Riding Mau Ditabrak Ban Mobil Lepas, Di Majenang Jateng | Bonsaibiker

Pengalaman Riding Mau Ditabrak Ban Mobil Lepas, Di Majenang Jateng

Saat itu kira-kira 3 tahun lalu James Bons melakukan touring Magetan-Jakarta via jalur Selatan, seperti biasa Touring ditemani Abang tercinta Mas Mansur. Yup, sehabis sholat subuh James Bons langsung geber si Camry “Tiger James Bons Yang Rantenya Camryosok wakakakaka” naik gunung Lawu dari sisi timur menuju Cemorosewu untuk lewat Karangnayar lalu ke Solo. Bwww duiiinginnya minta ampun di Cemoro Sewu, kami berhenti sambil menunggu matahari terbit. Mmm tak berapa lama matahari terbit dari ufuk timur terlihat indah dari ketinggian gunung lawu, wssss uap putih keluar dari mulut kami pertanda udaranya ruar biasa dingin. Sejenak memandang alam sekitar nampak begitu idah hingga membuai angan serta membawa jauh-jauh kepenatan ibu kota dari dalam benak James Bons.   Ahhhhhhh sedaaaaaaaaaaap sambil nyruput kopi tentunya.


Beberapa saat kemudian kami berdua terombang-ambing diatas si Camry menuruni gunung lawu, kemudian ke solo lalu langsung ke Jogja. Di jogja kami kelayapan nyari sego kucing untuk sarapan, wee manteb berdua cuman abis 5 ribu Rupiah berikut minum dan nambah wehhehe. Asik gan muter-muter Jogja banyak tempat bersejarah. Sayangnya waktu itu belumlah kenal dengan brader-brader jogja, padahal beberapa minggu kemudian James Bons balik lagi ke Jogaj sowan ke Begawan Martini, pak kepala suku, pak camat dll karena baru kenal. Cuman gak enaknya di Jogja terlalu banyak lampu merah gan, capek berentinya wekekek.


Puas di Jogja kami berdua langsung tancap gas ke arah barat. Tak lupa kami turun ke sungai Progo untuk melakukan tradisi “Ngising bersama abang Mansur” sambil mandi hehe manteb sungainya mayan jernih gan. Usainya berberes kami lanjut dan beberapa kota kami lewati meski sebagian pinggirannya doang mulai dari Wates, Purworejo, Purwokerto, Cilacap, Kebumen. Saat di kebumen kami Istirahat di sebuah masjid, tidur nyenyak selama 1,5 jam wee jan anglerrrr bin ngilerrrrr, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan.

Tepat jam 5. 30 saat itu kami berada di hutan daerah majenang, perbatasan Jateg-Jabar yang jauh dari pemukiman penduduk. Pas ditengah hutan pegunungan kebetulan ada sumber air dibawah pohon besar yang tak jauh dari pinggir jalan , weh pikir kami itu saatnya melaksanakan tradisi ‘ngising bareng’ karena memang udah kebelet dan dari tadi gak ketemu sungai, sembari menunggu maghrib yang bentar lagi datang. Langsung kami minggir dan kami parkir si Camry di pinggir jalan dekat sebuah gubug kosong, pas dipinggir jurang. Terus terang daerah sepi, tengah hutan juga malam gelap adalah kondisi faforit kami, bisa melamun tanpa ada seorangpun mengganggu, kami bisa berhayal tanpa seorangpun memotong, kami bisa merasa bersatu dengan alam, jauh dari hiruk-pikuknya kehidupan kota. Hantu, weheheh itu bedanya James Bons dan om Yudi Batang, tak ada cerita hantu diwarung bonsai karena memang belum pernah ketemu hantu.

Di heningnnya petang itu tiba-tiba ada suara cieeeeetttttt, plan-palnag glodhiagh. Weh ternyata melintas sebuah sedan mewah  yang bannya lepas beserta pelknya melaju kencang ke arah si Camry yang diparkir dipinggir jalan ditepi jurang. Dalam hati ketika sepersekian detik hanya berfikir, wah ban bakal nabrak si Camry dan masuk jurang nih! Namun untungnya ketika ban berada 1 meter mengarah pada si Camry, si ban langsung berubah arah,mm legaaa ya Allah engkau masih melindungi kami dan si Camry. Si ban tadi mengarah ke gubug kosong dan langsung membuatnya reot, ya bayangkan ban beserta pelek dalam kecepatan tinggi pastilah bertenaga besar. Andaikata kena si Camry, yakin sama-sama masuk jurang, alhamdulillahnya belok gan, weh subhanallaaah. Sementara itu si pengendara aman dan mobilnya hanya rusak bagian depan karena nggasruk aspal hingga kapnya mlengkung.

Berikutnya mas Mansur mengantar si pengemudi mencari bantuan ke daerah majenang kota menggunakan si Tagor Camry yang jaraknya masih lumayan jauh dari situ, sementara James Bons nunggu deket mobil bersama istri si pengemudi tadi. Alamaaaak cakep nian, kinyis-kiyis dan masih muda gaan! Heheh, tapi subhanallah James Bons takkan mancing di air keruh wekekeke, kami cuman ngobrol sepantasnya. Wal hasil ketika semua usai kami lanjoot tradisi yang tertunda, ‘ngsising’ dan mandi di mata air tadi di sela-sela gelapnya senja. Weeeh  segar gaaan, manteeeb dan kini tak seorangpun mengganggu keasikan kami berdua dan bahkan hantupun walu iri dan bahkan pingin untuk ikut mandi tapi nampak juga pengertian dan tak hendak mengganggu kami dengan seizin Allah. HHaa, seeep. Usai sholat Maghrib dan Isa’ kami lanjut perjalanan ke Banjar, meliku-liuk di jalan pegunungan di tengah gelapnya malam itu.
TobeContinue

Advertisements
%d bloggers like this: