Ini Basi Gak Usah Dibaca, Terimakasih. | Bonsaibiker

Ini Basi Gak Usah Dibaca, Terimakasih.

Dikampung James Bon Dulu Ada sebuah Pndok Yang sedikit besar sebagai pusat syiar Islam dengan 10 oran pengajar. Lumayan banyak murid-murid yang belajar di pesantren ini untuk sekelas pondok kapung. Namun sayang ditengah perjalanan terganjal oleh aksi PKI yang sebagian anggotanya adalah murid pesantren ini, wajar rumah James Bons deket Madiun markas besar PKI tahun 49. Suatu hari ditahun itu setelah sholat berjamaah berapa santri dalam jumlah besar mengambil golok dibantu buanyak wadya bala PKI menyerang pondok. Pondok dibom, logistik pondok dirampas, kitab dan quran dibuat bahan bakar memasak nasi, sementara para pengajar ditawan, lalu digorok satu persatu berurutan dari yang sepuh ke yang muda. Bapak James Bons adalah pengajar termuda, saat mau digorok untuk urutan terakhir datanglah tentara yang menyelamatkan, alhamdulillah. Bayangkan kalau bapak James Bons ikjut digorok, mungkin sampean semua takkan pernah menjumpai blogger ngisingan yang suka melamun dikamar mandi ini, hahahahah.


Kini dipuing-puing peninggalan pondok tersisa beberapa gelintir al-Quran dan kitab-kitab klasik yang terbuat dari kulit dan ditulis dengan tangan. Tak ada yang berani membaca akan isi peninggalan ini dikampung James Bons, entah takut kualat atau memang tak bisa baca James Bons tak tahu persis, yang jelas semuanya tentu berbahasa Arab,dan beberapa tak makai harokat apalagi arti.  Ha James Bons Iseng buka-buka dan coba fahami isinya berbekal modal ilmu sadanya.
Salah satu diantaranya adalah hadits Isra’ حديث الإشراء yaitu sebuah kitab karangan seorang sufi yang berisi tentang seputar kejadian Isro’ dan mi’roj. Bagi sebagian kalangan benar kitab ini basi nggak usah dibaca, heheh Lingga Asmarantaka mode, “terimakasih”, lha kok?! Memang didalamnya memuat hadits yang dla’if alias lemah bahkan beberapa diantaranya disinyalir palsu atau maudlu’ kalau gak hati-hati bisa menyesatkan pembaca. Bagi James Bons kitab ini adalah lamunan liar seorang sufi atau dalam bahasa James Bons adalah lamunan kamar mandi yang meski ada sisi kurangnya tentunya tetap ada sisi baiknya.
Satu sisi yang menurut James bons baik untuk diambil pelajaran diantara sekian banyak sisi yang baik dalam kitab ini adalah ketika bercerita tentang kejadian Mi’roj yang tentunya sudah dibumbui banyak lamunan si pengarang.  Bahwa ketika Nabi  Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Aqso ke Sidrotul muntaha untuk bertemu Allah, ditengah perjalanan Nabi SAW melihat orang yang setiap jalan selalu tersangkut duri hingga kulitnya robek penuh darah kemanapun ia berjalan, lalu ada orang yang makan daging busuk padahal disampingnya ada daging segar yang jauh lebih sedap untuk dimasak. Ketika Nabi bertanya pada malaikat Jibril maka dijelaskan oleh Jibril bahwa itulah perumpamaan balasan di akhirat bagi orang yang di dunianya suka usil, mengungkit-ungkit kesalahan orang lain, selalu mengomentari orang lain, mengata-ngatai orang lain, atau bahkan bahagia diatas penderitaan orang lain, atau pun juga dengan kata lain lagi puas bisa menjatuhkan orang lain atau bahkan dalam bahasa Mbah Dukun Satar “memaki-maki lalu kamu menjadi pahlawan” lalu tenar, padahal basi.
Perlu dicatat, lamunan kamar mandi ini bukan mengalir begitu saja gan, sumber otentiknya ada dalam Al-Qur’an, sebagai berikut:
يا أيها الذين آمنوا اجتنبوا كثيرا من الظن إن بعض الظن إثم ولا تجسسوا ولا يغتب بعضكم بعضا أيحب أحدكم أن يأكل لحم أخيه ميتا فكرهتموه واتقوا الله إن الله تواب رحيم
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. Al Hujurat : 12)
Nah bagi pembaca sekalian yang beragama Islam mungkin ini sedkit petikan cerita yang bisa diambil pelajaran untuk menjauhi apa yang disebut desas desus dan mencari-cari kesalahan orang. Kalau boleh keras, Kang Terong Tomi Cahyo aja yang orang Kristen tak suka mencari-cari kesalahan bagaimana kita yang Islam yang justru mempercayai Qur’an malah terjebak dalam kebiasaan buruk ini, apa gak malu?! Ha, judul di atas memang basi gan! Sama seperti daging pada cerita di atas dan juga dalam ayat di atas bahwa boleh jadi daging saudara kita juga basi, dan itulah makanan kita kelak bila kita tidak sembuh dari penyakit ini. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, dan kita terebas dari yang basi ini, siapapun itu!? Mohon maaf bila ada kekurangan!

………………………….

Sekedar menggunakan meode lain dalam menyampaikan!

Advertisements
%d bloggers like this: