Himbauan Wapres Soal Azan Pakek Toa, Mau Mencaci Monggo, Mau Dukung ya Monggo, Yang Jelas Pikkirkan Beberpa Pertimbangan!

Saat James Bons kecil, masjid kami yang dikampung jauh dari keramaian tergolong rame untuk masjid sekelas kampung. Dibekali sebuah bedug besar degan diameter hampir 2 meter, ditambah rebana untuk memeriahkan malam minggu sambil mebaca Shalawat barjanji. Bagi sebagian orang mungkin ini bid’ah tapi ya monggo saja, toh itu adalah sebuah pendapat yang memang ada dasarnya. Saat malam Minggu dan malam Jumat biasanya anak-anak dan muda-mudi membunyikan rebana dan kadang beberapa membunyikan bedug untuk menyemarakkan suasana barjanzi. Salah satu penduduk yang rumahnya samping masjid sering marah-marah karena kebrisikan dan memang dia tak bisa tidur bahkan menderita darah tinggi, disamping memang fahamnya Muhamadiyah yang kurang menyetujui yang demikian.  15 tahun kemudian si bapak yang kebrisikan tadi entah kenapa tiba-tiba ikut Tarikat Naqsabandiyah, rajin dzikir dan selalu wirid habis shalat secara berbarengan layaknya orang NU. Entah kenapa sekarang dia tak pernah lagi marah, darah tingginya ilang, dan tak peduli dengan kebrisikan bedug. Dia berkata, Syiar itu butuh greget, kalau saya memikirkan egoisme pribadi dengan mematikan gairah para pemuda untuk menghidupkan masjid dan greget syiar Islam, rasanya saya kurang bersyukur pada Allah SWT.

adzan
adzan

Belakangan James Bons mengalami apa yang dialami si bapak tadi. James Bons tinggal disebuah kampung yang lumayan padat penduduknya, disebuah kabupaten yang kuat tradisi keislamannya, Cirebon. Dibelakang rumah James Bons berjarak 70 m ada masjid besar dimana jam 03.30 pagi sudah memperdengarkan murotal al Quran di pengeras suara hingga subuh, di depan rumah yang jaraknya cuman 30 meter ada mushalla yang ketika sebelum subuh sudah mengumandangkan Shalawat, disamping kiri yang jaraknya 100 m ada Mushalla yang tak kalah ramenya di pagi hari sebelum subuh, sementara di samping kanan dengan jarak 150 M juga terdapat mushalla dengan kegiatan sama. Terbayang mungkin di benak mas bor sekalian betapa berisiknya tiap pagi. Sementara kalau malam Jumat biasanya diadakan pengajian dan baca barjanzi hingga sekitar jam 10/11 malam.

Kontan setiap jam 03.30 yakin  James Bons sudah tak bisa tidur,padahal James Bons kalonger baru bisa tidur setelah lewat jam 1 malam. Hati protes, segitu  brisiknya tiap pagi, suara Toa seakan memekakkan telinga. Seperti si bapak yang di atas, James B0ns kemudian menderita darah tinggi karena kurang tidur.

Lama sudah berfikir, rasanya untuk seperti bapak di atas untuk merelakan egosime pribadi sangat berat, beberapa kali mencoba tidur cepat namun tak membuahkan hasil, bebrapa kali untuk tak bangun jam 3.30 tetap sangat susah karena memang terlalu berisik bersahut-sahutan. Pingin sekali rasanya bangu itu pas subuh aja, tapi ya terlelu nguing-nguing di telinga.

James Bons berpikir panjang, hunnga James Bons suatu ketika melihat sebuaharak-arakan demo demi mencegak kenaikan BBM, jelas itu membuat macet. Di ketika lain melihat orang punya hajat dengan memblokir jalan dan mengalihkan ke jalan lain, ya jelas mengganggu lalulintas. Teringat pada suatu kesempatan dimana pemilu sedang digelar, jelas banyak pawai yang memenuhi jalan, ya, memacetkan jalan. Seorang anak kecil disunat dinaikkan kereta kecana digiring ke seluruh kampung jelas brisik dan membuat pengguna jalan lain ikutan ngantri dan jala pelan, dan ini pemandangan yang terjadi hampir tiap saat di Cirebon. Kontes musik, pertandingan bola, kampanye, dan hajat lainnya juga tak jarang memakan kepentingan umum, baik itu mact, kadang rusuh, dan bahkan ada yang berujung pada pengrusakan. Demikian tabligh akbar yang tak jarang dilangsungkan di sebuah tempat yang memakan jalan sehigga membuat pengguna jalan geleng-geleng kecewa.

Beberapa saat James Bons tersadar, sebuah greget dalam emosi demi sebuah kelompok memang perlu ada yang dikorbankan. Sebuah keramaian adalah perlu pengorbanan minimal berupa kemacetan, kampanye yang meriah perlu kemacetan sebagai bumbunya. Ya, kemeriahan memang pasti ada yang dikorbankan, hidup bagai main catur, untuk mendapatkan itu harus mengorbankan yang ini. Tak terkecuali Syiar Islam untuk terlihat gregetnya memang dikorbankan sebuah kebrisikan, tak terbayakag kalau kita tinggal dekat Masjidil Haram  mm betapa ramainya tiapsaat.

Tak terbayang pula bila suara dentuman musik terdengar keras, sementara suara azan malah terdengar sayup-sayup, betapa lemah panggilan Tuhan itu terrasanya. Hati masih belum terima sebenarnya dengan kebisingan yang ada, namun James Bons dengan sekuat tenaga berusa memahaminya, itung-itung sedikit mencontoh si bapak dalam alinea pertama yag sukses mengalahkan gejolak batinnya,demi sebuah greget dalam syiar agama.

Monggo pendapat anda,bebas menyatakan pendapat, mendukung pak wapres, atau menolaknya, atau cenderung apatis, dengan sebuah dasar tentunya.

Advertisements
Advertisements

32 Comments

  1. tapi islam itu rahmatan lil ‘alamin!! tidak memberatkan pengikutnya dan tidak membuat pengikut yang lain muak….boleh pake toa….tapi yo rasah bengak-bengok….buat adzan pake pengeras sih boleh..tapi kalo tadarus pake toa yo kebangetan….gusti allah ki ora sare…tur yo ora budeg…nek ngundang uwong solat pake toa yo ra popo…soale pengikute ki do budeg2….aku yo termasuk….lha nek pas jamaah luhur mung wong 3…kuwis pake toa…nek ora paling dadi muadzin ngrangkep imam…tur solate dewe…makmume jin

  2. Bener kata pak de dan stuju apa yg di sampaikan oleh mas martini
    Pokoe Ya seep lah. .
    Btw pak de james bons tinggal cirebon mana pak de? Di jalan cirebon – indramayu nya ya? soal nya di jalan situ juga biasa nya banyak acara yg memakan bahu jalan. .
    Haha
    😀

  3. Di Kota Cirebon, kelahiran ane, pun hanya 100 meter jaraknya dari masjid, nggak ada tuh yang begitu (rame-rame shalawatan, sambil teriak, tabuh-tabuh genjring).

    Kalau menjelang subuh sih masih bolehlah ditolerir, sambil membangunkan yang lelap. Tapi kalau malam (setelah Isya sampai tengah malam), keblinger namanya. Mudah-mudahan saya nggak sampai ikut-ikutan yang begitu, sampai kapanpun.

  4. Yang harus kita ingat:
    1. Adzan adalah PANGGILAN untuk shalat. Bukan tanda masuk shalat. Gak mungkin kan manggil pake acara BISIK-BISIK.
    2. Panggilan adzan berkaitan dengan perintah SHALAT BERJAMAAH yang sangat dianjurkan. Nabi Muhammad saw sangat ketat memerintahkan umatnya untuk disiplin dalam shalat berjamaah, sampai-sampai sebagian ulama mengatakan bahwa shalat berjamaah itu hukumnya FARDHU ‘AIN, alias WAJIB kecuali uzur (sakit menahun misalnya). Hal ini karena nilai spiritual-sosial-moral-politis shalat berjamaah lebih tinggi daripada shalat dilakukan sendirian.
    4. Saya setuju jika yang diatur adalah penggunaan speaker untuk kegiatan di luar azan lima waktu, seperti pengajian, wirid/zikir, pembacaan Al-Qur’an atau shalawat dengan durasi yang lama (menunggu datangnya waktu shalat).Apalagi sudah banyak model speaker-mobile yang bisa dpilih sesuai kegunaannya.
    5. Saya juga setuju jika yang harus dipermasalahkan bukan sepeakernya, tapi si muadzinnya… yang adzannya tidak “menggerakkan” orang untuk ke masjid (suara atau lagunya kurang enak didengar misalnya …). Banyak para muallaf yang mendapat hidayah dari mendengar suara azan. Dan sebaliknya, bisa lebih banyak lagi mereka yang membenci Islam hanya karena kualitas suara dan “lagu” si muadzin yang kurang enak di dengar itu!

  5. Om Bonz…

    Pernah gak mau sholat tapi gak denger suara orang ‘Adzan??…bukan sesekali lho yak…

    Gw ngalamin ketika kemaren ada tugas di UK selama 2 bulan…selama 2 bulan tsb gw gak pernah ngedengerin suara ‘Adzan…Sholat hanya mengandalkan jadwal dari internet doang…kangeeen banget sama suara itu…

    Begitu sampe dimarih…Alkhamdulillah…sering nangis kalo ngedengerin suara orang ‘Adzan…apalagi suaranya yg merdu…

    Jadi…bersyukurlah kita hidup di Negara ini…

  6. Menjadi kewajiban pemerintah untuk membatasi HANYA yang bersuara merdu yang boleh adzan (ingat kan Bilal diangkat menjadi muadzin karena suaranya yang merdu?), yaitu dengan memberikan insentif kepada para muadzin di tiap masjid karena diangkat menjadi muadzin itu.
    Selain itu, pemerintah juga WAJIB memberikan pengeras suara yang berkualitas sehingga tidak ada orang yang merasa “tersiksa” oleh suara adzan.

  7. mungkin maksud pak budiono itu yang adzan itu suaranya paling nggak bagus dan ngerti cengkok’an’nya gitu mbah.. adzan pun suaranya gak boleh-asal-asal’an teriak kan mbah.. xixixixi… 🙂
    Sahabat bilal dulu kan ditunjuk jadi muadzin karena suaranya bagus dan merdu alias top jempolan… 🙂

    yah mungkin itu yang perlu dibenahi…. :mrgreen:

    *cmiiw

  8. Soalnya yg terjadi di lapangan adalah, adu kenceng mana yg lebih keras. Persaingan semacam ini rasanya kurang bagus utk urusan agama.

  9. Waduh… ngomongin TOA nih? Walaupun saya bukan muslim, tapi saya kira perlu adanya toleransi antar umat beragama. Bagi saya OK2 aja sih, yg penting pada kadar secukupnya, jgn sampai ada yg adu kenceng suaranya, apalagi sampai pake power amplifier berkekuatan setara konser di stadion, hahaha…
    Bagi saya sih gak masalah, toh semuanya demi memuliakan namaNYA. Salam damai…

  10. Kalo brisik, Sumpel aja kupingnya mbah..
    Beres tho,,
    skalian sama lobang idung disumpel juga, tinggal bungkus dh pake kaen putih

  11. Ada tulisan bagus dari Jalaluddin Rakhmat dalam buku “Meraih Cinta Ilahi.”

    Dalam Kitab Matsnawi, Jalaluddin Rumi bercerita: Dahulu, ada seorang muadzin bersuara jelek di sebuah negeri kafir. Ia memanggil orang untuk shalat. Banyak orang memberi nasihat kepadanya: “Janganlah kamu memanggil orang untuk shalat. Kita tinggal di negeri yang mayoritas bukan beragama Islam. Bukan tidak mungkin suara kamu akan menyebabkan terjadinya kerusuhan dan pertengkaran antara kita dengan orang-orang kafir.” Tetapi muadzin itu menolak nasihat banyak orang. Ia merasa bahagia dengan melantunkan adzannya yang tidak bagus itu di negeri orang kafir. Ia merasa mendapat kehormatan untuk memanggil shalat di satu negeri di mana orang tak pernah shalat.

    Sementara orang-orang Islam mengkuatirkan dampak adzan dia yang kurang baik, seorang kafir datang kepada mereka suatu pagi. Dia membawa jubah, lilin, dan manis-manisan. Orang kafir itu mendatangi jemaah kaum muslimin dengan sikap yang bersahabat. Berulang-ulang dia bertanya, “Katakan kepadaku di mana Sang Muadzin itu? Tunjukan padaku siapa dia, Muadzin yang suaranya dan teriakannya selalu menambah kebahagiaan hatiku?” “Kebahagiaan apa yang kau peroleh dari suara muadzin yang jelek itu?” seorang muslim bertanya.

    Lalu orang kafir itu bercerita, “Suara muadzin itu menembus ke gereja, tempat kami tinggal. Aku mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik dan berakhlak mulia. Ia berkeinginan sekali untuk menikahi seorang mukmin yang sejati. Ia mempelajari agama dan tampaknya tertarik untuk masuk Islam. Kecintaan kepada iman sudah tumbuh dalam hatinya. Aku tersiksa, gelisah, dan terus menerus dilanda kerisauan memikirkan anak gadisku itu. Aku kuatir dia akan masuk Islam. Dan aku tahu tidak ada obat yang dapat menyembuhkan dia. Sampai satu saat anak perempuanku mendengar suara adzan itu. Ia bertanya, “Apa suara yang tidak enak ini? Suara ini mengganggu telingaku. Belum pernah dalam hidupku aku mendengar suara sejelek itu di tempat-tempat ibadat atau gereja.” Saudara perempuannya menjawab, “Suara itu namanya adzan, panggilan untuk beribadat bagi orang-orang Islam. Adzan adalah ucapan utama dari seorang yang beriman.” Ia hampir tidak mempercayainya. Dia bertanya kepadaku, “Bapak, apakah betul suara yang jelek itu adalah suara untuk memanggil orang sembahyang?” Ketika ia sudah diyakinkan bahwa betul suara itu adalah suara adzan, wajahnya berubah pucat pasi. Dalam hatinya tersimpan kebencian kepada Islam. Begitu aku menyaksikan perubahan itu, aku merasa dilepaskan dari segala kecemasan dan penderitaan. Tadi malam aku tidur dengan nyenyak. Dan kenikmatan serta kesenangan yang kuperoleh tidak lain karena suara adzan yang dikumandangkan muadzin itu.”

    Orang kafir itu melanjutkan, “Betapa besar rasa terima kasih saya padanya. Bawalah saya kepada muadzin itu. Aku akan memberikan seluruh hadiah ini.” Ketika orang kafir itu bertemu dengan si muadzin itu, ia berkata, “Terimalah hadiah ini karena kau telah menjadi pelindung dan juru selamatku. Berkat kebaikan yang telah kau lakukan, kini aku terlepas dari penderitaan. Sekiranya aku memiliki kekayaan dan harta benda yang banyak, akan kuisi mulutmu dengan emas.”

    Jalaluddin Rumi mengajarkan kepada kita sebuah cerita yang berisi parodi atau sebuah sindiran yang sangat halus. Adzan yang dilantunkan dengan buruk dapat menghalangi orang untuk masuk Islam. Dari cerita di atas kita tahu keberagamaan yang dimaksudkan untuk membawa orang kepada agama berubah menjadi sesuatu yang menghalangi orang untuk memasuki agama.

    Dengarlah nasihat Jalaluddin Rumi setelah ia bercerita tentang itu. “Keimanan kamu wahai muslim, hanyalah kemunafikan dan kepalsuan. Seperti ajakan tentang adzan itu, yang alih-alih membawa orang ke jalan yang lurus, malah mencegah orang dari jalan kebenaran.”

    ====================
    Jadi, kalau mau dipersoalkan adalah si muadzinnya (yang bersuara buruk). Bukan bunyi speakernya !
    Bagi setiap muslim, seperti nasehat Rumi dari kisah “parodi” di atas. jadilah “muadzin” (yang mengajak orang ke jalan Tuhan) yang bersuara indah… terlepas dengan atau tanpa speaker !!! Keindahan Islam yang ditampilkan jauh lebih “menggerakkan” hati siapa saja untuk mendekat kepada Tuhan !!!

  12. yah apapun itu seharusnya dilakukan dg imbang, gak kurang gak lebih.. intinya hrs bsa menjaga toleransi dan kerukunan..

Monggo Tinggalkan Komen Sini Gan, Isian Kolom 3 Pake http://www.... Bila Susah Kosongin