Aku Hanyalah Lilin Yang Bisa Sedikit Menerangi Dengan Membiarkan Diriku Habis Terbakar | Bonsaibiker

Aku Hanyalah Lilin Yang Bisa Sedikit Menerangi Dengan Membiarkan Diriku Habis Terbakar

ikhlas

ikhlas

Mas Bro sekalian, lihatlah ketika gelap gulita, ada sebuah lilin yang bisa sedikit menerangi, namun dia mengorbankan diri dengan membiarkan dirinya habis terbakar.
Suatu ketika James Bons bergumul dengan para tukang sayur dan para pemulung di gang-gang kumuh Pondok Gede Bekasi. Mereka ini James Bons undang main ke rumah. Di emperan rumah kontrakan James Bons yang kecil inilah mereka berkumpul, bercerita, dan berbagi rasa, sambil sesekali nyruput kopi ala kadarnya buatanya nyonyah James Bons.  Beginilah hampir tiap sore mereka ngumpul dan sesekali melihat tv jelek besar rakitan James Bons.

Seorang  tukang sayur dekil bertutur, “saya kerja pagi dan sore jualan sayur, hanyalah demi anak yang sekarang ini saya kuliahkan di sebuah perguruan tinggi negeri di ibu kota ini. Biarlah saya tersengat matahari, termakan renta dan tergencet kerlip kota, tapi saya berharap anak saya tak merasakan kesusahan yang saya rasakan.”

Sementara seorang pemulung bertutur,  “ Biarlah disini aku tidur beratapkan langit, berkasurkan karus-kardus bekas, tercaci oleh mata-mata sinis dan terusir oleh satpol PP, namun yang penting dikampung sana anak istriku bisa hidup layaknya manusia.”

Ya, itukah pengurbanan, itukah keihlasan?

Betulkah itu lilin yang terbakar hingga habis, mengorbankan diri demi sedikit menerangi yang lain?

Betulkah itu hanya seonggok nasi yang sedikit mengganjal perut dan kemudian menjadi e’ek yang dibuang ke dalam WC?

Betulkah itu hanya sebuah artikel yang sedikit menggugah pertanyaan yang kemudian hanya dipersilakan untuk dicaci?

Yal lilin terbakar hakukatnya hanya berubah wujud, meskipun ia habis namun zatnya pada hakekaatnya masih ada. Nasi yang berubah menjadi kotoran pada hakikatnya adalah siklus alam untuk kemudian dimakan oleh cacing pengurai lalu menjadi tanah, dan menjadi nasi kembali. Demikian juga artikel yang menggugah meski ia dicaci ia adalah sesuatu yang senantiasa diingat untuk menggugah motifasi seseorang untuk bertanya atau berkomentar.

Demikianlah sebuah amal pengorbanan, meski kita mengeluarkan harta, pikiran dan bahkan harta, namun pada hakekatnya semua yang kita keluarkan itu adalah berubah wujud menjadi pahala yang kemudian hari Allah akan kembali membalas amal pengurbanan kita tersebut.

Allah itu   لا يخلف الميعاد

Allah itu tak pernah ingkar janji.

Monggo diresapi dan selanjutnya menjadi landasan untuk ihlas.

Advertisements
%d bloggers like this: