Miskin Jadi Pembenaran, Benar Nrobos Lampu Merah, Benar Melawan Arus, Benar Jualan Di Bahu Jalan! | Bonsaibiker

Miskin Jadi Pembenaran, Benar Nrobos Lampu Merah, Benar Melawan Arus, Benar Jualan Di Bahu Jalan!

Kala melihat mobil melawan arus, kayaknya janggal banget, namun saat melihat becak menerobos lampu merah, atau motor melawan arus, bahkan menerobos lintasan kereta api, itu kayaknya sudah menjadi hal yang biasa. Demikian  ketika melihat pedagang asongan berjualan di lampu merah itu biasa, bikin lapak di terotoar itu biasa, dan semua itu seakan dianggap benar. Padahal kita tahu menrobos lampu merah itu membahayakan diri sendiri dan orang lain, melawan arus itu menantang maut, terotoar itu adalah tempat pejalan kaki, lampu merah itu bukan pasar. Nah, sering kali kita menamakan sesuatu sebagai pembenaran karena kondisi tertentu, sebut saja istilah Miskin. Ya dengan kata lain bisa juga diungkapkan bahwa kemiskinan menjad pembenaran untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya benar.

menantang maut di perlintasan kereta kereta

menantang maut di perlintasan kereta kereta

Sedikit Tinjauan Agama Tentang Fenomena INI!

Pertama pasti tak satupun agama mengajarkan agar umatnya hidup miskin melarat dan serba kekurangan. Demikian juga Islam, tak sedikitpun mengajarkan agar umatnya hidup di bawah garis kemiskinan. Alasannya jelas, bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, memberi lebih baik daripada menerima. Bahkan secara tegas Islam menggambarkan kejadian seperti di alinea pertama di atas adalah kebenaran realita yang harus dibahas, diatasi dan dituntaskan, tertulis dalam sebuah hadits bahwa:  كاد الفقر أن يكون كفرا “kemiskinan membawa kepada kekafiran”. Banyak kejahatan terjadi karena faktor kemiskinan, mulai dari nyolong singkong, nyolong ayam, hingga nypet bahkan njambret. Jelasnya kemiskinan membawa pada ketidakteraturan, kehancuran dan kesemrawutan.

Lha terus Mosok kita serta merta menyalahkan KEMISKINAN?

Miskin itu takdir atau pilihan? Ya coba kita pikir, siapa yang bisa memilih lahir dari kandungan konglomerat, istri presiden, atau pun lahir dari istri seorang buruh tani, kuli, dan sebagainya. Dari sini jelas miskin ini sebuah takdir. Di sisi lain berapa banyak anak buruh tani yang akhirnya menjadi direktur, menjadi menteri atau menjadi pengusaha sukses. Disini kita bisa melihat kesempatan terbentang luas di depan daripada hanya merenungi apa yang kata orang disebut takdir. Padahal takdir sendiri ada yang mubrom dan ada yang mu’allaq, ada yang paten dan ada yang bisa diusahakan.

 Sebuah kalimat sederhana tapi begitu menggugat disampaikan Abrahama Samad, “Kalau Korupsi tidak menggerogoti Indonesia, bisa jadi pendapatan perkapita penduduk kita bisa 20 juta/bulan”. Cukup mencengangkan! Artinya, dalam memiskinkan orang selain diri sendiri ternyata juga ada peran dari orang lain yang menjarah hak-hak orang miskin. Akhirnya jadiah orang miskin itu makin tertinggal, makin terbelakang, makin tak tertata, makin tak terdidik dan makin besar kesempatan berbuat salah atau melakukan pembenaran ketika kita salah.

Terus Kudi Piye?

Ya, kemiskinan, pelanggaran, kesemrawutan, dan kengawuran itu jelas tercipta dari sebuah system, jelas kita tak bisa menyalahkan begitu saja orang miskin. Macet juda andil dalam pelanggaran, lalu ujungnya adalah aturan tata lalu lintas yang tidak dibuat sebanding dengan jumlah kendaraan, kurangnya fasilitas kendaraan angkutan umum juga menymbang membludagnya jumlah motor. Ya memang penguasalah yang paling punya kekuatan untuk mengatur hal ini, punya tangan besi dan legalitas, namun sebagai opini pribadi, maaf bila saah, setidaknya  kita bisa memulai dari diri sendiri, andaikata kita miskin tapi kita bisa menunjukkan bahwa kita juga bisa ikuti atoran, that’s better!

Advertisements
%d bloggers like this: