Salah Satu Pemicu Lekalantas di Tol Cipali: Banyak Yang Tidak Siap Berkendara Di Tol

cikapali

cipali

Mas bro sekalian, beberapa kali kita disuguhi berita tentang lakalantas di tol Cipali, ada yang meninggal, ada yang cedera, ada yang nylonong ke jalur sebelah, ada juga yang nabrak lewat bahu jalan. Nah banyak yang menduga-duga dan menganalisa apa pemnyebab banyaknya kecelakaan di tol Cipali ini, mulai dari masalah mistis, penerangan jalan, rambu, hingga mentalitas berkendara. Nah kalau menurut James Bons pribadi, setelah beberapa kali wara-wiri Jakarta-Cirebon lewat tol ini, kok rasanya yang paling dominan faktornya adalah masalah mentalitas berkendara. Banyak yang tidak siap fisik dan mental untuk berkendara di tol Cipali.

460x110-

Ya, pertama berkendara sejauh 100 KM, dengan kondisi jalan mulus lurus dan sepi memang butuh fisik prima, mental prima. Berikut ini beberapa hal yang James Bons temui di tol ini!

  • Pertama yang James Bons rasakan ketika geber mobil di kecepatan tinggi dengan jarak 100-an KM adalah rasa kantuk yang menyerang luar biasa kuat. Nah kalau tidak bisa mengatasi kantuk ini jelas bakal bikin celaka, seperti kasus terakhir satu keluarga dari Ponorogo meninggal Malam Minggu lalu karena dikbarkan sopirnya ngantuk. Jalan lurus, mulus, kalau berkendara di kecepatan 100 kph rasanya seperti hanya melaju di kecepatan 80 kph. Banyak pengendara baru tahu kecepatannya sudah berlebih setelah melihat spedometer. Inilah salah satu sihir tol Cipali yang bikin kita khilaf.
  • Ke dua, banyak pengendara yang seenaknya zig-zag bak nyetir motor, tanpa sein dan tak memperhitungkan pengendara di belakangnya yang sedang melaju. Kejadian ini sering James Bons temui. Ketika James Bons melaju di kecepatan 100 kph di lajur kanan, tiba-tiba saja dari kiri sebuah mobil menyalip nlonong ke kanan tanpa sein, untung saja James Bons masih sempat menginjak rem dengan baik. Nah hal yang seperti ini sering terjadi, entah karena orangnya egois atau beru belajar berkendara, sehingga kalau mau nyalip dengan pindah jalur tak mau ngesin atatu melihat pengendara lain. Ya gayanya kayak nyetir motor aja gan zig-zag tak ada sein.
  • Ke tiga, banyak pengendara tak tahu psikologis kendaraan dan kondisi jalan. Pernah James Bons tanpa sadar melaju hingga kecepatan 140 Kph di jalur kanan tanpa nyalip siapapun karena kondisi sangat sepi, ya itu dia tersihir jalan lurus mulus dan sepi, baru nyadarnya setelah lihat spedometer. Ya boleh jadi kecepatan segitu masih belum terasa ketika membawa sedan, khilaf gan. Nah dalam kecepatan tersebut, tiba-tiba dari belakang disalip Gran Max  yang pastinya dengan kecepatan di atas 150 KPH.  Hembusan angin yang begitu kencang, membuat Gran Max ini goyang dombret gak karuan, entah apa yang ada di pikiran pengemudinya, jelas-jelas angin besar, mobilnya tinggi, pastinya cukup berbahaya. Nah setelah terlihat mobil ini oleng barulah pengemudinya mengendorkan speed, untung ada belum sempat jatuh. Beberapa saat kemudian juga terjadi lagi dimana sebuah Xenia nyalip dengan kecepatan tinggi, hingga terlihat jelas mobil goyang dombret melayang, dan kemudian setelah hampir oleng barulah si pengemudi mengurangi speed. Demikian seterusnya banyak yang terkena sihir tol Cipali untuk kebut, termasuk James Bons sendiri.

Untuk pengendara mobil besar macam bus dan truk, James Bons lihat mereka ini jauh lebih profesioal dan siap mentar. Selalu ambil jalur kiri, dan apabila mau nyalip pake sein, dan setelah nyalip kembali ke jalur kiri lagi. Pun kalau nyalip kebanyakan selalu memperhatikan yang di belakangnya.

Demikian yang James Bons rasakan, boleh jadi agan sekalian punya pengalaman yang berbeda, kurang lebihnya mohon maaf, semoga bermanfaat.

About these ads

About Bonsai Biker

Pecinta bonsai dan otomotif
This entry was posted in Berita Umum and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published.