Kabid Humas Polda DIY: Konvoi dengan Kawalan Polisi Boleh Terobos Lampu Merah | Bonsaibiker

Kabid Humas Polda DIY: Konvoi dengan Kawalan Polisi Boleh Terobos Lampu Merah

pengendara-sepeda-ingatkan-pengendara-hd-tak-trobos-lampu-merah

pengendara-sepeda-ingatkan-pengendara-hd-tak-trobos-lampu-merah

Aksi yang dilakukan Elanto Wijoyono (32) ‘menghadang’ konvoi moge yang melintas di Yogyakarta karena rombongan dengan pengawalan polisi tersebut menerobos lampu merah memang ramai dibincangkan di dunia maya, menuai pro dan kotra. Nah belakangan Kabid Humas Polda DIY AKBP Any Pudjiastuti  angkat bicara.

Berikut statmennya:

“Itu untuk konvoi boleh melewati lampu meski pada saat itu merah, ada diskresi. Ada aturannya sendiri, karena konvoi itu kan tidak boleh putus…………Semata-mata untuk pelayanan masyarakat. Kami melakukan pengawalan seperti untuk mobil jenazah atau pengisi uang ATM,”
Nah konvoi yang dimaksud adalah konvoi yang sudah mengajukan izin dan permintaan pengawalan ke kepolisian.

Kita tengok aturannya gan untuk Moge!

Yup sumbernya pasti Undang-undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Nah di sini ada aturan tentang pengguna jalan yang diprioritaskan atau kendaraan bermotor yang memiliki hak utama, untuk menerobos lampu merah. Dalam pasal 134, kendaraan yang memiliki hak utama tertulis:

a. Kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas;
b. ambulans yang mengangkut orang sakit;
c. Kendaraan untuk memberikan pertolongan pada Kecelakaan Lalu Lintas;
d. Kendaraan pimpinan Lembaga Negara Republik Indonesia;
e. Kendaraan pimpinan dan pejabat negara asing serta lembaga internasional yang menjadi tamu negara;
f. iring-iringan pengantar jenazah; dan
g. konvoi dan/ atau Kendaraan untuk kepentingan tertentu menurut pertimbangan petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia

Yang menjadi dasar boleh jadi poin g, ada aturan soal konvoi atau kendaraan kepentingan tertentu yang diizinkan menembus lampu merah. Pasal 104 ayat 1 UU LLAJ menjelaskan :

Dalam keadaan tertentu untuk Ketertiban dan Kelancaran Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia dapat melakukan tindakan:
a. memberhentikan arus Lalu Lintas dan/atau Pengguna Jalan;
b. memerintahkan Pengguna Jalan untuk jalan terus;
c. mempercepat arus Lalu Lintas;
d. memperlambat arus Lalu Lintas; dan/atau
e. mengalihkan arah arus Lalu Lintas.

Keadaan tertentu itu disebabkan oleh:

a. perubahan Lalu Lintas secara tiba-tiba atau situasional;
b. Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas tidak berfungsi;
c. adanya Pengguna Jalan yang diprioritaskan;
d. adanya pekerjaan jalan;
e. adanya bencana alam; dan/atau
f. adanya Kecelakaan Lalu Lintas

Nah kasus Moge di Jogja Menurut Kabid Humas Polda DIY AKBP Any Pudjiastuti boleh karena sifatnya konvoi dan dikawal polisi.

Lalu bagaimana mas bro Elanto Wijoyono (Joyo) yang menggunakan sepeda dan memprotes?

Dalam Pasal 106 ayat 2 Undang-undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan disebutkan:

“Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mengutamakan keselamatan Pejalan Kaki dan pesepeda.’

Lalu, dalam pasal 284 tertulis:

Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor dengan tidak mengutamakan keselamatan Pejalan Kaki atau pesepeda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah)’

Nah, bagaimana menurut agan sekalian?

Advertisements
%d bloggers like this: