Jujur Atau Nggak, Polisi Lebih Menyayangi Nyawa Kita daripada Kita Sendiri

tilang

tilang

Memang Indonesia itu dipenuhi orang-orang sakti yang tidak mempan kalau kalau diancam akan ditabrak kereta, tidak takut akan diancam hukuman, tidak keder ketika  dincam tabrakan sesama pengguna jalan dan sebagainya. Ya akhirnya menjadi umum ketika lampu merah ditrobos, palang pintu kereta ditrobos, aturan larangan korupsi juga ditrobos. Ya, itu tadi karena sakti, yang jadi bukti hanyalah mati, kalau gak mati gak bakal terbukti, namun ketika terbukti ya sudah mati mau apa lagi!

Web banner 460X110px

Tulisan ini boleh jadi nampak lebay, namun lihatlah fakta, bahwa ternyata polisi lebih menyayangi nyawa kita daripada kita sendiri. Di palang pintu kereta yang biasanya hampir tak pernah ada razia, kini karena korban kecelakaan yang diakibatkan oleh pengguna jalan yang nylonong saat palang pintu kereta di tutup meningkat, dan bahkan menjadi trendng topik lakalantas, maka polisipun melakukan tilang pada penerobos palang pintu kereta. Lha akhirnya benar kan, olisi lebih menyayangi nyawa kita daripada kita sendiri.

 

Kalau agan gak bisa buka, cek di link INI!

Kalau agan gak bisa buka, cek di link INI!

Padahal gan, keluarga dirumah menunggu dengan setia. Masak ia ulang dengan hanya tinggal nama? Hayo, masak yang sayang nyawa harus orang lain, kita sendiri tak peduli, padahal Tuhan telah mengamanahi kita nyawa tersebut agar dijaga, so, hanya seksedar renungan saja.

About Bonsai Biker

Pecinta bonsai dan otomotif
This entry was posted in Berita Umum and tagged , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Jujur Atau Nggak, Polisi Lebih Menyayangi Nyawa Kita daripada Kita Sendiri

  1. BBB aja says:

    Sebenarnya untuk penerobos ada tiga macam, 1 yang bisa menilai situasi dan 2 yang asal nerobos mau cepat serta 3 yang ikut-ikutan karena diklakson atau karena melihat yang di depan bisa nerobos.

    Yang bahaya adalah yang nomor 2 dan nomor 3.

    Kalau melihat video di atas sebenarnya posisi penerobos tidak termasuk dalam kategori membahayakan dirinya, TETAPI dengan dia menerobos itu bisa memicu pengendara dibelakangnya untuk nerobos nah yang belakangan ini yang masuk dalam hitungan berbahaya.

    Untuk mobil termasuk yang tidak boleh menerobos karena tidak bisa menilai situasinya karena line of sightnya lebih terbatas dari motor.

    Masalah lainnya adalah :
    1 kemampuan mengukur manusia sangat tergantung emosi pada saat itu, bila emosi lagi labil, kemampuan mengukurnya bisa terganggu. Apalagi yang sudah biasa nerobos, pada saat emosi sedang terganggu kemampuan menilai situasinya bisa sangat berkurang karena merasa sudah pengalaman dan emosi sedang terganggu (kombinasi yang sangat fatal).
    2 efek dari melihat orang bisa nerobos itu menimbulkan kecemburuan sosial sehingga memicu orang dibelakangnya untuk ikut nerobos walau hitungannya waktunya sudah berbeda dengan hitungan waktu si penerobos. Waktu orang kedua dan selanjutnya sekian detik lebih pendek daripada penerobos pertama, yang artinya resiko tertabrak kereta semakin meningkat.

  2. bakar_bakaran says:

    gapapa mbah yang nerobos mati, itung2 ngurangin populasi orang goblok di negara ini. dah tau kereta api gak bisa ngerem mendadak, bobotnya juga puluhan ton, masih tetep nganggep pesawat kertas. biarkan mereka mati dan jangan ditangisi, udah sepantasnya kok…

  3. swandhita wedottama says:

    Dah resiko penerobos.. lumayan buat ngurangi pengangguran.. orang ga tertib gak usah dipikirin.. keputusan diambil beserta konsekuensi resiko..

  4. BBB aja says:

    Menerobos palang kereta api menggunaan motor 45 detik sebelum kereta lewat sangat membahayakan penerobos.

    Resiko tertabrak tanggung sendiri, asal jangan nerobos deket gue, bisa-bisa gue yang kena getahnye.

    Menerobos palang kereta api tanpa mengetahui posisi kereta api sangat sangat membahayakan lebih banyak orang lagi. (Diri sendiri dan orang yang posisinya deket dengan penerobos).

Leave a Reply

Your email address will not be published.