Tentang iklan-iklan ini
jump to navigation

Polisi Tewas Tertabrak Bus Transjakarta 24 Februari 2012

Posted by Bonsai Biker in Portal Otomotif.
Tags: , , ,
16 comments

Sungguh tragis nasib pak polisi ini, meninggal tertabarak busway, ya sebuah berita yang ditulis pada laman beritasatu.com meyatakan bahwa seorang polisi berpangkat komisaris tewas tertabrak bus Transjakarta di Jalan DI Panjaitan, Koridor 10, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis malam sekitar pukul 20.00 WIB. Korban yang bernama Djoni Ambareta (56) itu diduga tertabrak karena menerobos ke jalur Transjakarta. menulis, korban yang mengendarai sepeda motor jenis bebek dilaporkan sedang melintas dari arah Jatinegara menuju Cipinang.Busway

Kata seorang saksi bernama Aji yang berada di lokasi kejadian,korban sedang berusaha menyalip ketika terjatuh ke kanan, sedangkan vesi Jonar Brandom, juru mudi Transjakarta korban terjatuh ketika ingin mendahului bus yang sedang menurunkan penumpang di halte hingga akhirnya terlindas ban belakang bus yang mulai melaju. Ada pun Bus Transjakarta bernomor polisi B 7024 IS yang menabrak korban baru saja menurunkan penumpang di halte Prumpung, Jakarta Timur. (lebih…)

Tentang iklan-iklan ini

Tabrakan Dijalur Busway: Salah Busway nya Atau Korbannya ya?? 12 Juli 2011

Posted by Bonsai Biker in Berita Umum.
Tags: , ,
20 comments

Sebenarnya  info tentang kecelakaan di jalur busway sudah sering kita dengar nih bro. Seperti kemarin (11/7/2011)  Asisten Manajer Pengendalian Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta,Iqbal di Jakarta menyatakan bahwa sebanyak 54 kasus kecelakaan terjadi di jalur busway Transjakarta selama semester pertama 2011 yang menewaskan 11 orang. “Biasanya kecelakaan terjadi saat jalur reguler sedang macet. Sehingga banyak pengendara sepeda motor yang memotong jalan bus Transjakarta sehingga terjadi kecelakaan,” kata Iqbal.

Data dari Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta menyebutkan selama 2011 terdapat 54 kecelakaan dengan rincian Januari 4 kasus, Februari 8 kasus, Maret 12 kasus, April 10 kasus, Mei 11 kasus, dan Juni 9 kasus. Jumlah tersebut menurun dibandingkan dengan periode yang sama pada 2010 dimana kasus kecelakaan di jalur Bus Transjakarta mencapai 66 kasus.Dari 10 koridor yang telah beroperasi, menurut Iqbal, koridor III (Kalideres-Harmoni) merupakan salah satu jalur yang paling banyak terjadi kasus kecelakaan. “Kondisinya memang banyak warga yang menyerobot di jalur III, selain itu JPO (jalur penyeberangan orang) jaraknya juga terlalu jauh,” ujarnya.

Iqbal mengungkapkan bahwa untuk menekan angka kecelakaan di jalur busway, pihaknya selalu mengingatkan pramudi (sopir busway) untuk mengurangi kecepatan, khususnya di jalur-jalur yang rawan kecelakaan seperti di Jalan Mampang Prapatan, koridor VI (Ragunan-Dukuh atas). Selain itu, Iqbal berharap agar masyarakat dapat mematuhi rambu-rambu lalu lintas yang telah dipasang, seperti rambu jalur khusus busway dimana kendaraan lain dilarang untuk menggunakan jalur tersebut.

Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) Azas Tigor Nainggolan mengatakan masih banyaknya kecelakaan di jalur busway itu adalah karena masih minimnya sosialisasi mengenai sterilisasi jalur busway Transjakarta kepada masyarakat.”Kalau peristiwa tabrakan di luar jalur busway, ya masuk akal publik menyalahkan Transjakarta. Tetapi kalau kecelakaan terjadi di dalam jalur bus, ya patut diselidiki karena apa terjadi, apakah si pelintas atau pengemudi motor seenaknya saja menyeberang atau melintasi jalur tersebut,” ujarnya.

Azas Tigor menyatakan prihatin dengan kondisi tersebut karena seringkali saat terjadi kasus tabrakan antara pejalan kaki dan motor dengan bus Transjakarta, reaksi publik adalah menyalahkan Bus Transjakarta padahal bus tersebut melintas di jalur yang memang disediakan khusus untuk lalu lintas bus tersebut. “Saya prihatin melihat beberapa kali bus Transjakarta menabrak pejalan kaki, seperti pada hari Minggu (10/7) lalu yang mengakibatkan kedua kaki korban remuk terlindas bus Transjakarta. Korban tertabrak saat melintasi jalur busway. Padahal harusnya saat melintasi jalur tersebut, dia melihat dulu apakah ada bus yang lewat,” katanya. Bentuk sosialisasi kepada masyarakat disebut Azas Tigor adalah seperti sterilisasi jalur Transjakarta sehingga pejalan kaki harus berhati-hati menyeberang dan menunggu jika ada bus yang melaju di lintasan.

Kalau kenyataannya masih saja ada kecelakaan/atau tabrakan, salah siapa hayo…???

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 7.172 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: