Kopasus Pengeksekusi Preman Delu-elukan Masyarakt di Jogja, Giliran Polisi Malah Jadi Target Untuk Dihabisi

Sungguh runyam kondisi penegak hukum dan rumor yang berkembang di masyarakat belakang ini. Entah apa yang terjadi sebenarnya namun fakta sekarang terus mencuat bahwa banyak yang mengincar personal polisi untuk dihabisi dan kantor polisi dijadikan target penyerangan. Beberapa minggu lalu terjadi penembakan terhadap polisi di jakarta, lalu sekitar setahun lalu bahkan Kantor Polisi  di Cirebon dibom bunuh diri, sekitara dua minggu lalu Kantor polisi di daerah semarang dirusak masa gara-gara kasus tilang. Dan paling baru adalah penembakan mati terhadap plisi di depan gedung KPK beberapa hari lalu. Entah sebenarnya banyak masyarakat yang dendam pada polisi atau segelintir oknum saja yang bermasalah dengan polisi, ataupun juga memang ulah oknum polisilah yang membuat masyarakat begitu geram, ya wallahu a’lam.

Gmbar copas dari FB TNI
Gmbar copas dari FB TNI

Kondisi ini kontras dengan yang dialami TNI. Di Jogjakarta, Pelaku eksekusi empat tahanan titipan Polda DIY (preman yang membunuh salah satu anggota Kopasus di Jogja) di Lapas Kelas II B Cebongan, Sleman, Serda Ucok Tigor Simbolon justru mendapatkan sambutan hangat dan luar biasa dari ratusan simpatisan masyarakat yang dengan setia mngikuti sidang dakwaan pembunuhan pada Ucok.

Copas dari Kompas :

“………Jika nanti sudah selesai upaya hukum, saya dan keluarga akan menetap di Yogya. Kita akan bersama-sama memberantas premanisme,” tegas Ucok di teras Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta seusai sidang,……… Di depan ratusan warga dan elemen masyarakat yang menunggunya sejak pagi di depan Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta, Serda Ucok Tigor Simbolon mengaku tetap menghormati hukum yang berlaku dan membiarkan prosesnya berjalan. “Kami pilih langkah banding,” tandasnya……………Pernyataan itu spontan disambut sorakan ratusan orang yang ada di halaman pengadilan militer. Massa yang berasal dari gabungan puluhan elemen masyarakat itu tak henti-hentinya meneriakkan “Hidup Kopassus, hidup Kopassus, bebaskan Kopassus……..Terima kasih kepada massa yang sudah spontan datang untuk memberikan dukungan kepada kami di sini,” ucap Serda Ucok.

MMm bijman ini gan!

41 komentar pada “Kopasus Pengeksekusi Preman Delu-elukan Masyarakt di Jogja, Giliran Polisi Malah Jadi Target Untuk Dihabisi

  • 11 September 2013 pada 19:16
    Permalink

    mr.police hrs lbh instropeksi apakah UU kepoliwian sdh sepenuhnya dilaksanakn……

    Balas
  • 11 September 2013 pada 19:18
    Permalink

    mr.police hrs lbh instropeksi apakah UU kepolisian sdh sepenuhnya dilaksanakn……

    Balas
  • 11 September 2013 pada 19:46
    Permalink

    biasa aja… karena polis lebih banyak berhubungan dgn masyarakat… saking banyaknya yg bajingan jd bikin rasa antipati dan reduksi rasa respect… :mrgreen:

    Balas
  • 11 September 2013 pada 19:47
    Permalink

    polisi..? ditakuti karena sering nilang & cari-cari kesalahan (entah takut atau jijay)

    TNI..? ditakuti memang karena wibawanya

    kata temen saya itu..

    Balas
  • 11 September 2013 pada 20:20
    Permalink

    Tidak ada asap kalau tidak ada api..

    Balas
  • 11 September 2013 pada 20:51
    Permalink

    rakyat itu gampang…kenyang,aman,nyaman…udah ga bakalan pada ribut dahh…!!!

    Balas
  • 11 September 2013 pada 20:57
    Permalink

    lebih baik nabi Muhamad jadi suri teladan yg memang akhlaknya baik. melakukan kebaikan tapi caranya salah ya ttp gk boleh pak bons

    Balas
  • 11 September 2013 pada 21:07
    Permalink

    Kopasus yes,,,,!!!
    Polisi / wereng coklat…NO

    Balas
  • 11 September 2013 pada 21:18
    Permalink

    netral wae…sing penting rak wis dihukum 11 tahun…btw di solo jg rame spanduk ” dukung ksatria..berantas premanisme.. ” …heran….

    Balas
  • 11 September 2013 pada 21:49
    Permalink

    Terorisme mungkin mbah, kalau ada berita terorisme biasanya ada kata-kata terduga terorisme ditembak. Baru terduga loh mbah belum terdakwa. cmiiw. bener tak ada asap kalau tak ada api.

    Balas
  • 11 September 2013 pada 22:42
    Permalink

    rakyat sdh geram dgn hukum dinegri ini para penegak hukum malah melanggar hukum,jk dihukum pst ringan hukumannya pak bon….

    Balas
  • 11 September 2013 pada 23:52
    Permalink

    you know lah… daptar polkis aza abis ratuzan juta.. makan gaji haram seumur hidup.. jelas neraka..

    Balas
  • 12 September 2013 pada 01:08
    Permalink

    sebenarnya simpel aja, tugas polisi itu langsung bersentuhan dengan masyarakat umum, jadi baik n buruknya polisi bisa langsung di lihat..
    bila kondisinya di balik pun akan sama, misalnya seluruh anggota tni jadi polisi dan seluruh anggota polri jadi tentara..
    so militer di negara manapun tugasnya pertahanan dan tidak mencampuri / bersentuhan dengan masyarakat, tapi khususnya di indonesia, orde baru yang meng-anak emaskan militer telah membuat kesalahan, kemudian di era reformasi peran dwi fungsi tni di cabut, yang sebenarnya memang bukan jobdesk tentara, tapi sampai sekarang masih banyak kalangan elite militer yang tidak menerima hal tsb..
    jadi wajar kalau institusi tni di nilai bersih oleh masyarakat karena hal yang ane sebut di atas !
    polri sudah terlanjur buruk citranya di mata masyarakat, yaa kembali lagi apa kata ane di atas !
    kedepan institusi polri harus intropeksi untuk memperbaiki citra dan kinerjanya, memang tidak semudah ane berkomentar, yaa biasa lah namanya juga masyarakat bisanya cuma jadi penonton dan bernada sumbang !

    Balas
    • 12 September 2013 pada 03:58
      Permalink

      Tp kl cerita ortu zaman masih abri, g da istilah “sidang” di tempat, pelanggaran ringan tuh adanya hukuman di tempat dan tegoran… kl pelanggaran berat br di tilang dll

      Balas
  • 12 September 2013 pada 05:47
    Permalink

    mgkn saja dulu dwifungsi tni sbg balance/keseimbangan antar 2 intitusi yg saling mengoreksi satusama lain dgn ini korupsi plng tdk bs ditekan,la era skrng gmn tuh???

    Balas
  • 12 September 2013 pada 07:56
    Permalink

    tetangga saya ditangkap gara2 jualan miras produksi rumahan, trus di sel sm barang bukti jg dbawa ke polsek. pas malam2 polisi jaganya malah pada minum miras yg jd barang buktinya, sekalian sm temen sy jg tuh… apa gak gila tu…..
    mungkin itu potret polisi kita, yg pangkat rendah gitu , yg pangkat tinggi mgkin korupsi….
    ya mgkin itu katanya cm oknum, tp oknum kok bisa sampe 80% tu gimana????

    Balas
  • 12 September 2013 pada 08:01
    Permalink

    ga polisi ga tni, kalau benar ya disanjung kalau salah ya dihukum, dan dua2nya banyak yg salah ada juga yg benar. Ngunu wae

    Balas
  • 12 September 2013 pada 08:33
    Permalink

    gw salah satu org yg muak sama polantas,kl razia terlalu mencari cari kesalahan,masa ia ga ada tutup pentil aja d tilang -_-
    Pdhl pake helm,spion lengkap ada 2,knalpot standar,ya pokok nya semua lengkap,kecuali tutup pentil ga ada 😀

    Balas
    • 12 September 2013 pada 11:58
      Permalink

      setuju masbro
      #saya juga pernah ditilang dg kasus yg sama 😀

      Balas
  • 12 September 2013 pada 08:53
    Permalink

    polisi emang bangsat om, makanya klo punya anak jangan suruh jadi polisi, klo punya anak perempuan jangan boleh nikah sama polisi om….

    Balas
  • 12 September 2013 pada 09:07
    Permalink

    kelakuan beberapa oknum lah yang jadi penyebab mbah. . .
    yang pangkat bawah nyari-nyari kesalahan dijalan
    yang jendral korupsinya nggilani

    yang kasihan polisi jujur mbah. . . . ibarat kecebur di laut ikutan asin

    keep brotherhood,

    salam,

    Balas
  • 12 September 2013 pada 10:07
    Permalink

    Sora dira jayaningrat, lebur dening pangastuti

    Balas
  • 12 September 2013 pada 10:45
    Permalink

    polisi imagenya sudah jelek. apalagi kasus mantan pejabatnya korup 🙁

    tni suka bantuin masyarakat gotong royong. bagus imagenya.

    Balas
  • 12 September 2013 pada 12:16
    Permalink

    Preman yg di bunuh di cebongan bukan preman biasa loh salah satu gembong perdagangan narkotika terbesar di jogja dan juga pelaku perdagangan wanita, doski juga di bekingi oleh oknum oknum berseragam mirip seragam pramuka

    Miris sekarang ini tni gaji.pas.pasan malah mau bertindak memperjuangkan keadilan sebenarnya

    Sementara polisi bergelimang harta malah jadi mafia dalam seragam, pantes lah di tembakin. Padahal yg di tembakin blom tentu polisi bejat

    Balas
  • 12 September 2013 pada 13:53
    Permalink

    yg kasian polisi kere yg dtembak ddepan kpk..dia ngawal truk bwt cari uang tambahan bwt keluaganya…cb yg dtembak itu polisi korup…yg pny rekening milyaran..istri simpanan…gw salut dah pok ame ame pokonya

    Balas
  • 12 September 2013 pada 19:27
    Permalink

    Pernah dulu pas aturan lampu utama wajib nyala belum berlaku secara resmi diberlakukan, gue kena denda polisi.
    Yg bikin jengkel, gak konsisten, banyak yg gak nyalain lampu depan tapi karena warga sekitar situ gak ditilang.
    Hilang respect gue sama oknum kayak gitu.
    Klo mau adu jotos sekalian, gak usah pakai seragam.

    Balas
  • 7 Desember 2014 pada 06:49
    Permalink

    Kami di Jogja sudah bosan & geram melihat tingkah laku “oknum orang timur” yang sok berkuasa disini. Harusnya & memang sudah kewajibannya pendatang untuk menghormati warga asli, ya intinya saling menghargai. Warga Jogja memang dikenal baik hati (saya berani bilang sebagian besar) tapi jika kami diganggu, kami tidak akan tinggal diam.

    Nb: saya katakan “oknum orang timur” karena tidak semua orang timur jahat.

    Balas

Monggo Tinggalkan Komen Sini Gan, Isian Kolom 3 Pake http://www.... Bila Susah Kosongin

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: