Yamaha Jumawa Dengan R 15 dan 25, Kawasaki Perkasa Dengan Duo Ninja 250, Tapi Ingat Tempe Bosok Kalau Yang Jual Honda Bakal Laris!

Mas bro sekalian, sejak keluarnya RR mono baik fairing maupun yang versi naked, juga dengan keluarnya R 15 dan spy shot R 25, terlihat Kawasaki begitu perkasa imagenya di segmen sport 250 membenamkan Honda, sementara Yamaha begitu jumawa yang diwarnai dengan ident mengulur pesanan mbludak tak tercover. Nama CBR 150 terbenam oleh hingar bingar R 15, demikian nama CBR 250 tertutupi oleh duo Ninja 250. Ya, ini fakta, bukan hayalan. Namun betulkah Honda cukup diam tanpa kata? Ya, ingat pepatah, tempe bosok aja kalau dikasih lambang sayap bakal laris manis gan, ini bukan hendak mengatakan Honda jualan tempe bosok, tapi justru bagaimana ketika marketing Honda dengan jurus andalannya bisa meramu tempe bosok menjadi sambal sedap yang menarik untuk di beli dan sueedap dikonsumsi, dan jurus itulah yang tak dimiliki Kawasaki maupun Yamaha yang sekarang terlihat jumawa, tapi bagi Honda belum terlihat apa-apa.

CBR 150 vs RR mono vs R 15
CBR 150 vs RR mono vs R 15

Monggo lihat kasus di lapangan, R 15 laris, lalu di berbagai daerah dipesan, kemudian terjadilah euforia aji mumpung. Dealer daerah mengambil untung sebanyak-banyaknya dengan menaikkan harga atau dengan cara menggaet bank untuk kredit sehingga untung bisa beberapa kali lipat. Efeknya konsumen kecewa, belakangan lari ke Honda!

Ini bukan barang baru gan, udah barang basi, yang sering terulang dan terulang, padahal dahulu kurang rame apa kasus Fino indent harus kredit, kalau tidak kredit tidak dilayani, demikian juga kasus Byson yang juga senada. Yang dirugikan tentu Yamaha, akibat kasus seperti ini penjualan total secara nasional tak bisa maksimal. Ini terbukti dengan dikalahkannya segement sport oleh Honda padahal dengan gacoan yang bisa dibilang seadanya oleh sebagian orang pada sekitar Feruari-Maret lalu.

Psywar Yamaha R15
Psywar Yamaha R15

Sementara Kawasaki! Berbagai kasus mendera, mulai dari kelangkaan part terutama di daerah hingga harga motor yang melambung tinggi. Bayangkan, motor Honda antara Jakarta-Cirebon nyaris tak ada beda harga, paling-paling cuman Rp. 500.000, sementara Kawasaki bisa berjuta-juta gan untuk sportnya! Bahkan lihat kabar beberapa minggu lalu dimana ketika Kawasaki melaunch RR mono di Jogja dengan harga yang cukup fantastis kenaikannya dari Jakarta. Kawasaki Yogyakarta pada awalnya umumkan Harga Sementara Kawasaki Ninja 250 RR mono, yang standar Rp. 44,2 jutaan sedangkan versi ABS Rp. 49,2 juta, bayangkan berapa juta kenaikannya dari Jakarta yang 39,9 Juta. Lalu kemudian belakangan dikabarkan Kawasaki menurunkan harga Ninja RR mono untuk Jogja sekitar 42,2 juta saja, sama dengan Bali.

Contoh paling real untuk dilihat adalah bagaimana Kawasaki Z 250 yang begitu mempesona, kekar, eksotis, manteb, powerful, namun hanya dipuja dijadikan idola, tapi ternyata di lapangan, mmm tak juga ramai dibeli. Ingat dipuja belum tentu di beli. Dan akhirnya hanya menjadi contoh icon untuk djadikan rujukan model bagi CB 150 R dan V-ixion modifikasi.

Duo Merah, CB 150 R Ala Z 250 Merah vs New V-ixion Ala Z 250 Merah,
Duo Merah, CB 150 R Ala Z 250 Merah vs New V-ixion Ala Z 250 Merah,

Nah, berbagai kasus ini, Kawasaki maupun Yamaha terlihat sering kedodoran dan tak terkontrol sehingga wajar kalau secara marketing dalam skala nasional akan berpengaruh. Sementara Honda cukup bisa meredam kasus-kasus seperti ini, meski tidak semuanya tercover. Ini belum lagi masalah black campain yang dilancarak beberaa kali leh dealer daerah seihingga malah memperburuk citra sendiri. So, masalah ini harusnya tak diabaikan begitu saja oleh Kawasaki dan Yamaha! Modal keren dan power berlebih nampaknya belumlah cukup untuk mengalahkan Honda secara sekala besar. Ya, ini tak serta-merta lho gan, tak semua yang dilakukan Honda selalu benar, beberapa kasus sperti CS 1, dan CBR 150 juga kurang moncer. Tapi jelasnya Kawasaki dan Yamaha musti mewaspadai hal yang seperti ini, karena ekspektasi publik terlanjur tinggi pada dua brand ini.

Sekali lagi sebagai catatan TEMPE bosok tidak menggambarkan bahwa motor Honda itu motor Bosok! Tetapi lebih pada bagaimana Honda meramu motornya “yang banyak dibilang jadul bahkan sebagian orang dengan sinis mengatakan bosok” menjadi sesuatu yang mempunyai value tinggi. Tempe Bosok di Jatim adalah sebagai bahan membuat sambal kemangi yang sedap dan bumbu sayur lodeh yang makΒ  nyosss. Kalau kita memandang bosoknya maka konotasinya akan selalu negatif, tapi kalau memandang tempe bosok secara utuh sebagai potensi, mm sunggu itu sesuatu gan, semoga tidak alergi dengan kata-kata bosok terutama tempe bosok. Nah ini bisa diartikan Honda bisa mengolah dua kondisi tempe sekaligus, baik tempe bagus maupun tempe bosok, dua-duanya sama-sama mempunyai value, tapi harus panda-pandai meramu, sedangkan Yamaha dan Kawasaki baru sebatas bisa mengolah tempe bagus saja.Β  Just my opinion, pendapat beda itu wajar, monggo!

111 komentar pada “Yamaha Jumawa Dengan R 15 dan 25, Kawasaki Perkasa Dengan Duo Ninja 250, Tapi Ingat Tempe Bosok Kalau Yang Jual Honda Bakal Laris!

  • 10 Mei 2014 pada 15:17
    Permalink

    1. Ibarat sekolah itu jumlahnya sperti guru dan murid
    2. Mana yg suka bermain..mana yg suka belajar
    3. Ibarat sekolah negri dan swasta

    #yg bisa menterjemahkan 3 kalimat diatas dgn tepat sya akui wawasanya luarbiasa!!

    Balas
    • 10 Mei 2014 pada 17:47
      Permalink

      sperti Y&K yg melawan H.
      walaupun desain,performa,dll yg aduhai kl tdk bs mencukupi permintaan pasar y bakal kalah sm brand yg scr kuantitas bejubel stoknya.
      org mgkn byk yg tertarik tp krn berbelit,njlimet,nunggu unit tdk jelas kpn dikirim pdhl disodorin uang cash dealer menolak,y akhirnya konsumen cr yg cpt aja.

      kecuali org yg sudah bener2 jatuh hati,sabar menunggu&tdk mau merk selain yg dia inginkan.

      cmiww. πŸ˜€

      Balas
      • 10 Mei 2014 pada 18:07
        Permalink

        Hihi..nyaris smpurna…
        luaaaar biasaa wawasanya..
        g smw org bsa menganalogikan sesuatu yg ckup abstrak kdlm hal yg dinamis dan realistis

        Balas
        • 10 Mei 2014 pada 18:12
          Permalink

          Itu karena saya banyak belajar dari sampean om farouk dan ada beberapa teman yang memang mengalami seperti itu.

          Balas
      • 10 Mei 2014 pada 18:09
        Permalink

        Conthnya si #034 , jatuh hati ma nini, tapi lama, lalu pindah ke Cibi 250

        Balas
        • 10 Mei 2014 pada 18:13
          Permalink

          Nah karena realitanya spt itu mbah bons…
          Y&K kalau ada produk fresh from oven bakal susah dipinang.
          Temen ane jg ngalami koq πŸ™‚

          Balas
      • 10 Mei 2014 pada 18:24
        Permalink

        Belajar mengerti ilmu itu gurunya adlh seorang panutan.. namun belajar memahami hidup gurunya adlh pengalaman..
        kang setya pnya pngalamn yg luarbiasa..psti lbh mmhmi hidup..
        Mbah bonsai aj gk bs jwb..ngahahahaha
        o ya point 1 mgkn bsa lbh disempurnkn kang setya?

        Balas
        • 13 Mei 2014 pada 05:43
          Permalink

          Ah enggak jg koq om F,,ane jg msh bljr,msh cetek ilmunya dibanding sampean
          πŸ™‚

          Balas
  • 10 Mei 2014 pada 15:20
    Permalink

    di kediri, tempe bosok sedep dibuat sambel tumpang lho mbahbons..
    tanya kang tarom :mrgreen:

    Balas
  • 10 Mei 2014 pada 15:22
    Permalink

    akhirnya ane komen juga.
    betul yang dikatakan akang.
    asal tau saja harga P200NS disini(kalimantan tengah) 27,9 Jt OTR.

    gila ngak tuh :berduka

    Balas
    • 11 Mei 2014 pada 04:30
      Permalink

      Kaltengnya dimana om…di palangkaraya dealer 24,6jt an aja belom diskon 1 juta

      Balas
  • 10 Mei 2014 pada 15:30
    Permalink

    marai honda wes menang nama

    Balas
  • 10 Mei 2014 pada 15:42
    Permalink

    faktor harga mas bon… cbr dan cs1 itu contoh nyata… model juga. kayak kasus blade. untung blade segera merubah tampilan… baru laku….. motor laris honda itu cuma supra, beat dan vario… selebihnya biasa aja… yg penting 3s itulah.. orang skarang makin pintar.. beli kendaraan itu mesti sama 3s…. ya toooh

    Balas
    • 10 Mei 2014 pada 16:10
      Permalink

      tempe yang dah terlalu lama yang biasanya dibuat sambal, lamun di sundana mah tongkreng

      Balas
  • 10 Mei 2014 pada 16:15
    Permalink

    lebay min, klw tempe bosok dari honda pada keracunan lho, ntar muntah2.. gak segitu juga lah om

    Balas
    • 10 Mei 2014 pada 16:23
      Permalink

      lah tempe bosok itu sambel khas Jatim lho, selain itu buat sayor lodeh juga tempe bosok, uenak kalau sampen pernah coba, tinggal bagaimana meramunya!

      Balas
  • 10 Mei 2014 pada 16:25
    Permalink

    kalo kata ane > bukan karena marketingnya yang hebat om…

    tapi mitos kosong irit bbm n mesin honda makin panas makin beringas > dari jaman y s k main mesin 2tak sebagai perbandingannya…, itu terbawa di-benak konsumen sampai sekarang n makin menguntungkan / menguatkan produsennya…

    di-samping sumber daya n dana honda yang melimpah > lebih kuat / lebih besar dari kompetitornya…

    yaa konsumen adalah raja (gak pake singa) πŸ˜› > yang jelas konsumen bebas2 aja mau pilih n beli yang mana…?

    tapi kemarin ane bilang konsumen adalah raja > malah ada komentator yang gak setuju…, di-komen artikel om iwb ini…
    http://iwanbanaran.com/2014/05/09/yamaha-yzf-r15-laris-manis-mafia-bisnis-merajalela/#comment-612069

    bakaaarrr….! πŸ˜† :mrgreen:

    γ€€

    Balas
    • 10 Mei 2014 pada 17:10
      Permalink

      Setuju banget gan! Itu terjadi krn miskin informasi dan pengetahuan si konsumen. Masih banyak banget yg mendewakan motor Honda, pdhl tiap merk punya kelebihan dan kekurangan masing2, gak ada yg sempurna. Tapi mitos itu udah terlanjur mendarah daging, terutama konsumen dari daerah kota kecil. Salut ama Yamaha yg bisa bejaban ama Honda, walaupun gak bisa tumbangin, tp setidaknya msh banyak yg ngelirik produk Yamaha ketimbang Suzuki dan Kawasaki yg sesama merk Jepang.

      Balas
    • 10 Mei 2014 pada 19:37
      Permalink

      Pengalamanku sih bukan hanya dari jaman dua tak, tapi sampai jaman mio, vega vs beat, revo, soal irit dan kepanasan masih spt itu keadaannya. Ini pengalaman lho ya, beda sama mitos. Tapi jaman injeksi ini sudah nggak mengikuti, sudah nggak sempat lagi.

      Terserah mau dibilang fbh, tapi jangan salahkan juga kalau yang kontra disebut fby. πŸ˜‰

      Balas
  • 10 Mei 2014 pada 16:30
    Permalink

    Yang bikin tagline soal TEMPE BOSOK itu siapa Mas,,,??
    AHM-kah atau Penulis sendiri,,,??

    Balas
    • 10 Mei 2014 pada 16:38
      Permalink

      jelas itu pepatah gan, AHM gak bakalan bikin tag line seperti itu, ingat tempe bosok, kalau dilihat dari bosoknya mungkin orang jijik, tapi itu adalah bumbu sedap untuk masak sayur lodeh, artinya itu adalah kemarihiran dalam meracik sebuah produk, mngemasnya, dan menjualnya

      Balas
      • 10 Mei 2014 pada 18:54
        Permalink

        yg blm tau/merasakan tempe bosok ya gak akan ngerti.
        Apalagi kalo di sambel kemangi, wuiiii… Isok ngentekno sego sak wakol πŸ˜€

        Balas
  • 10 Mei 2014 pada 16:31
    Permalink

    BUOSOK!!! watu di tempeli sayap, di jual harga emas! masih di beli.

    fbh anci pekok bosok

    Balas
    • 10 Mei 2014 pada 20:05
      Permalink

      Lahh fby lbh pekokk
      Tiap ngomen d blog isi nya cm BC ttg produk laen
      Tp ttp MS yimm letoy
      Kasiaann kliatan bgt puekokk’eee

      Balas
  • 10 Mei 2014 pada 16:33
    Permalink

    Tak perhatikan blog ini selalu nyudutin honda ya?

    Balas
    • 10 Mei 2014 pada 16:39
      Permalink

      monggo ddibaca artikelnya secara lengkap, lalu menyudutkannya di mana gan?

      Balas
    • 10 Mei 2014 pada 17:12
      Permalink

      Bukannya kebalikannya bro? Saya malah merasa blog ini mendewakan Honda AHM. Mana yg bener nih? wkwkwkwwkwkwk,,,,,,,

      Balas
      • 10 Mei 2014 pada 17:27
        Permalink

        wakakakaka, ya begitulah mas bro, saya mah monggo saja sampean sekalian menilai mau dibilang bela Yamaha, atau bela Honda ya terserah sampean-sampean, karena kalau saya menilai diri sendiri pasti subyektif
        bebas berpendapat, bahwa pendapat tak harus sama

        Balas
  • 10 Mei 2014 pada 16:38
    Permalink

    kalo yamaha bilang “maaf habis terjual” honda bilang “maaf tidak pernah habis terjual. cbr150 tanpa R selalu ada untuk anda”. πŸ™‚

    Balas
    • 10 Mei 2014 pada 17:59
      Permalink

      Yamaha:”diobralll…diobraal..yg murah..yg muraah..diit..krediit..ambl dlu bayar blakangan..bli satu dpt helm..”
      Honda blg.”ente wani piro??”
      jls kan level konsumenya??

      Balas
      • 10 Mei 2014 pada 19:35
        Permalink

        wakakakak… yamaha oleh helm motojipi.
        honda gratis helm TRX kepala alien, naik motor pake TRX helmnya kena angin muter sendiri wakakakak

        Balas
        • 10 Mei 2014 pada 19:39
          Permalink

          Helm alien aj bnyk yg bli..
          Yamaha hrs pke helem motojipi dlu bru laris.. case closed

          Balas
  • 10 Mei 2014 pada 16:48
    Permalink

    ohh tempe bosok ya…? wkwkwkw……….sbnrnya sih sama saja g yamaha g honda klo soal fakta di lapangan…dealer kadang mempersulit klo beli cash….saya aja pindah ke yamaha krn dealer honda yg nakal kek gitu…. sbnrnya sih klo pengen lancar yaa bertemanlah sebanyak2nya sama org dealer…maka semua kesulitan itu bakal terlewati….!!! mo beli kredit ato cash bakalan sama lancar…kadang kita belum dp sepersenpun motor bakalan langsung di kirim kerumah..yahhh tinggal telpon barang langsung di kirim.

    Balas
  • 10 Mei 2014 pada 16:48
    Permalink

    ane
    suka gaya elo
    dingklikpun kalo ada logo sayap pothel tetap laris.

    Balas
  • 10 Mei 2014 pada 17:02
    Permalink

    mnurut sy apapun pabrikannya, pasti targetnya penjualan yg tinggi. khusus utk brand jepang, coba liat scra nasional/dlm negeri indonesia, pabrikan mana yg paling bnyk jualannya.. lalu secara global, pabrikan jepang mana yg paling laris. nah larisnya ini tentu faktornya banyak.. cmiiw.. btw sblum ada yg nuding sy condong pd merk trtentu, iya sy punya 1 cbr600rr dan satu hayabusa..

    Balas
    • 10 Mei 2014 pada 19:44
      Permalink

      Sippp..kenalan dong…saya punya bebek 20….tiap hari aq angon disawah…

      Balas
  • 10 Mei 2014 pada 17:15
    Permalink

    honda biarpun tanpa marketing kayaknya bakal tetap laris ,wong orang kebanyakan kalo mau beli motor ya ke dealer honda wkwkwkwk

    Balas
  • 10 Mei 2014 pada 17:17
    Permalink

    motorku tempe bosok, teganya dirimu….

    Balas
  • 10 Mei 2014 pada 17:21
    Permalink

    Betul sekali bro, tempe busuk pun kalo ditempelin merk sayap ngepak bakal laris manis, yg penting hrgnya gak tinggi, yg entry level gitu deh. Karena terbukti kan CBR 150R/250R kaga moncer penjualannya? Begitu banyak FBH mati2an belain tp tetep kaga laris manis kan? Bandingin ama R15 yg laris manis, kenapa demikian? Krn harganya masuk akal alias gak ketinggian/kemahalan.

    Balas
    • 10 Mei 2014 pada 19:45
      Permalink

      Kalau cuma 1500 sudah dibilang laris manis, apa nggak dimarahin bosnya? Cuma 150cc lho. Kalau 1500 utk 1500cc baru laris manis. Btw, cbr150r built up lho, mosok minta harganya sama?

      Balas
  • 10 Mei 2014 pada 17:29
    Permalink

    entah yamaha, entah kawasaki entah suzuki ataupun mocin, di kampungku segala jenis sepeda motor nyebutnya honda…hondamu opo lik? jawabannya hondaku ninja 250 le..kenyataan lapangan bang bos

    Balas
    • 10 Mei 2014 pada 19:33
      Permalink

      itu yg bilang gitu cuma orang-orang tua. next generaasi pasti udah sadar semua.
      di daerah ane taun 90an juga gitu, bilang honda.
      sejak taun 2000an udah pada insyaf semua

      Balas
      • 10 Mei 2014 pada 19:50
        Permalink

        Betul.. antara org tua n anak kcil..
        Guru dan murid = berpengalaman dan ank yg blm tau apa2 =
        Org yg tau kebutuhan n ank yg hrus dituruti smw kmauanya

        Balas
  • 10 Mei 2014 pada 17:38
    Permalink

    mantap artikele mbah…….

    Balas
  • 10 Mei 2014 pada 18:38
    Permalink

    Ngoahahahahahah….ngoahaem juara matik cong.sport maen kruoyokan obral harga jg gk sanggup merebut tahta sport yamaha.segala cara dilakukan tetep gatot.tempe buosok????bener itu adanya produk2 ahm yg super cacat.apalagi jualan duo syempuak operpret yg gk laku.ngoahahahahaah

    Balas
    • 10 Mei 2014 pada 18:51
      Permalink

      Yamaha:”diobralll…diobraal..yg murah..yg muraah..diit..krediit..ambl dlu bayar blakangan..bli satu dpt helm..”
      Honda blg.”ente wani piro??”
      jls kan level konsumenya??

      Balas
  • 10 Mei 2014 pada 18:43
    Permalink

    Bonsai FBH garis keras

    Ngoahahahahaah

    Ayop bon,dibantu marketing ahm

    Biar sport ahm moncer…..

    Sepertinya ahm udah mati kutu dikelas sport

    Dan butuh makhluk2 seperti ente bon buat bantu jualan

    Ngoahahahahahaha

    Balas
    • 10 Mei 2014 pada 20:12
      Permalink

      sampean juga udah bantu marekting AHM, dengan komen berarti makin ramai makin laris, ngoahahahahaaa

      Balas
    • 10 Mei 2014 pada 20:34
      Permalink

      Contoh syampahh masyarakatt

      Balas
    • 10 Mei 2014 pada 21:59
      Permalink

      mas YANG pake nama palsu DOCh loyo.pleas bacot dijaga.jgn terlalu rasis..ini tempat diskusi.g semua motor honda buruk seperti yg ms DOCH fikirkn..tolong lah org miskin minggir

      Balas
  • 10 Mei 2014 pada 19:14
    Permalink

    Wk wk wk……… Yamaha R6 Sigid PD mogok di IRS 600cc, belum balapan udah mati kaku……

    Balas
    • 10 Mei 2014 pada 19:41
      Permalink

      R6 nya aj rompal..aplgi r15 yg blodline bocor..ad harga ada rupa.. ini yg dimaksud antara guru dan murid

      Balas
  • 10 Mei 2014 pada 19:28
    Permalink

    Hahaha….mbah bons bilang klo jualan honda motor bosok tetep laris…uedannnn…..kuwanen…digorok fbh…nek pot bonsai ditempeli stiker honda tambah laris 20%…wkwkwkw…

    Balas
    • 10 Mei 2014 pada 20:17
      Permalink

      siapa juga yang bilang honda jual motor bosok, justru honda pinter meramu marketing layaknya tempe bosok yang dijadikan makanan jozz, baca dulu gan, jangan liat judulnya!

      Balas
  • 10 Mei 2014 pada 19:31
    Permalink

    TEMPE BOSOK GUNDULMU MLONYOH.
    tuh CBR udah bosok sejak beberapa taun tetep aja jadi penghuni gudang.
    gitu kalo keseringan disuapin AHM, malah bosok.
    lanjoottt bosokne sisan

    Balas
    • 10 Mei 2014 pada 20:15
      Permalink

      gundulmu kui sing amoh ngoahahahahahaha!
      Sing bosok buakn motornya bos, woco sek! πŸ˜€
      Seng bosok Tempe kalau pinter meracik buat sambel dan sayru lodeh malah enak! Monggo sampean coba, yakni ketagihan!
      πŸ˜› πŸ˜€

      Balas
      • 10 Mei 2014 pada 20:50
        Permalink

        wis moco kok.
        ini mirip sama CBR 250 waktu anyar dulu yg hampir barengan ama new ninja 250 FI.
        konsumen ngantri beli ninja gak tahan lari ke CBR, tapi ya tetep aja tempe bosok cuma tahan sebentar sebelum bener2 gak layak dimakan.
        dan CBRpun dulu hanya laris di awal launching aja, sekarang udah jadi tempe bosok, eh saat mau diulek jadi sambel nongol R25 yg seger.
        .
        opo gak tambah bosok kuwi nang gudang.

        Balas
  • 10 Mei 2014 pada 20:34
    Permalink

    FBH everywhere

    Balas
  • 10 Mei 2014 pada 20:42
    Permalink

    Ati” multi tafsir om bons,,

    Balas
  • 10 Mei 2014 pada 21:11
    Permalink

    dalam keadaan kritis honda bakal jualan gorengan

    Balas
  • 10 Mei 2014 pada 22:30
    Permalink

    sy malah kagum sm strategy dan mungkin sedikit lucky dari kawasaki sehingga bisa menanamkan mindset motor kentjang padahal jaman RGV, RGR,RZR,NSR,RXZ,RX KING,dll berdjaya yg mana motor2 itu adalah legenda speed jalanan kawasaki cuma nongol dengan binterx yg jelas2 4 tak.eh pas para motor legenda ini gantung mesin muncullah kawasaki dengan ninjax yg menurut sy biasa aja(sy kelahiran thn 80 jd sempat merasakan euforia motor2 jalanan super kencang)di tambah keberuntungan tumbuhx perusahaan leasing(dulu bli motor harus cash)dan era internet maka berkibarlah ninja alias serpico sebagai motor kentjang dunia akhirat

    Balas
  • 10 Mei 2014 pada 22:59
    Permalink

    kenapa ya motor motor yang dibuat di eekland kualitasnya lebih bagus dan murah dibanding disini πŸ™ padahal kan market share pabrikan jepang paling gede dapetnya dari sini,

    Balas
  • 11 Mei 2014 pada 00:51
    Permalink

    Sorry OOT.
    #034.
    Lama” rada sumeh juga sya sm orng ini.. .
    Ngaku berwawasan n pinter bngt kyknya, tp g trlalu pinter n brwawasan buat nilai diri sendiri.. .hadeeh.. .

    Pkoke CBR 250 R d compare sma R1 head to head aja pasti pilih CBR 250 R.. .
    #udh ah, just IMHO… .

    Balas
  • 11 Mei 2014 pada 00:55
    Permalink

    Motor Honda banyak masalah,makanya wajar jika dikatakan bosok. Untungnya orang-orang tua cuma tahu kalau motor itu Honda dan ini masih turun temurun.

    Balas
  • 11 Mei 2014 pada 02:00
    Permalink

    tumben ki artikele mbah bons dowo lan juosss…

    setuju mbah, kontrol dealer mutlak diperlukan, mosok meh tuku cash kok kon nombok nganti juta-jutaan, lak bosok to..

    Balas
  • 11 Mei 2014 pada 17:29
    Permalink

    @Wiwie dan Kampesbolong
    hahaha, habis dari kamar mandi, mak plong kekkekekeek

    Balas
  • 16 Mei 2014 pada 09:51
    Permalink

    oke siiip aja deh

    Balas
  • 21 Mei 2014 pada 16:45
    Permalink

    Bisa aja yg buat judul…..siiiiippppp……bikin ktwa ngakak az….

    Balas
  • 14 Oktober 2014 pada 19:01
    Permalink

    mungkin honda gak bakal bikin “tempe bagus” sebelum penjualan mereka tumbang secara nasional !! kalo buat segmen sport, honda paling cuman mentingin klan 150cc karna pembelinya masih lumayan banyak, kayak cb150r yg dohc sama new cb150r. kalo sport cc diatas 150cc buatan honda ya boleh dibilang tempe bosok semua !!
    eh motor gue tempe bosok semua ding

    Balas

Monggo Tinggalkan Komen Sini Gan, Isian Kolom 3 Pake http://www.... Bila Susah Kosongin

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: