Motor Listrik ITS-Garansindo Mulai Tenar, Akankah Ditendang Faktor Politik Lagi?

Motor-Listrik-its-garasindo
Motor-Listrik-its-garasindo

Sebuah kabar berhembus kencang minggu ini, bahwa tim mobil listrik Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya bersama perusahaan automotif Garansindo kini tengah menyiapkan 3 jenis prototipe sepeda motor listrik, yakni klasik, skuter, dan sport. Garasindo sendiri telah ngimpor Zero, motor listrik buatan Amrik untuk dijual di Indonesia. Nah pertanyaannya adalah bisakah produk ini menuai sukses, wong biasanya selalu kandas diembat oleh politik?

Ya, motor listrik ITS-Garansindo yang bakal segera dikenalkan dalam bentuk 3 prototipe ini kabarnya banyak keunggulan, mulai dari sistem pengisian batrei yang mudah, jika tidak sempat isi ulang baterai di rumah, baterai bisa diisi ulang di gerai semacam Indomaret atau Alfamaret atau seperti isi ulang air galon, biaya operasional kecil, dan lebih ekonomis. Akselerasi yang dimiliki motor ini bakal relatif cepat dengan torsi lebih besar bila dibanding dengan motor konvensional, karena harus menyesuaikan dengan bobotnya yang lebih berat halini karena tuntutan piranti listrik yang membutuhkan berat badan. Pastinya motor ini bakal ramah lingkungan gan.

Pihak Garasindo berharap, motor listrik ini bisa jadi motor operasional di pemerintahan, karena biaya operasional bisa ditekan karena tidak menggunakan BBM, sementara harga yang ditawarkan masih setara. Lalu keudain betul-betul mendapat dukungan dari pemerintah agar bisa bersaing.

Lalu kira-kira bagaimana nasibnya nanti ya gan? Jelas-jelas hampir semua produk otomotif nasional mentog di urusan politik. Mulai zaman baheula, yakni mobil Bimantara dan Timor mentok setelah pak Harto Jatuh, kemudian Mobil Esemka juga mentok di ranah politik, paling belakang mobil listrik Dahlan Iskand malah sekarang dituduh korupsi dan njiplak, weh, masa depan yang buram belum ada gambaran. Kapan Indonesia bangkit?

18 komentar pada “Motor Listrik ITS-Garansindo Mulai Tenar, Akankah Ditendang Faktor Politik Lagi?

  • 4 Juli 2015 pada 10:14
    Permalink

    100% dijamin ditendang, dan pembuatnya dipenjara.
    Indonesia tidak butuh orang2 kreatif.

    Balas
  • 4 Juli 2015 pada 10:53
    Permalink

    Mobil listrik dan yang namanya mobil nasional itu dijadikan kendaraan politik. Jadi kelihatannya mudah sekali membuat mobil/kendaraan. Anak SMK bisa, bengkel bisa.

    Coba baca ini:
    https://arantan.wordpress.com/2012/07/18/sejarah-mobil-listrik-nissan-research-dilakukan-menerus-dan-berkelanjutan/

    Kalau kemudian mobil “Indonesia” di tambahkan kata-kata dengan, kendaraan untuk rakyat, plus kata-kata “murah” untuk semua orang itu jadi tambah ngehits…

    Sulitnya lagi, biaya research itu bisa menggunakan uang negara/uang rakyat, beberapa tahun kemudian hasil research itu akan ditanyakan, hasilnya mana?

    Ya tentunya tidak ada, sampai sekarang belum ada satupun mobil listrik Indonesia yang bisa di beli rakyat, sementara duit yang keluar ya sudah besar juga.

    Kendalanya mobil listrik salah satunya adalah baterai impor yang masih mahal, harga satu mobil listrik kira-kira tiga kali harga mobil bensin, kira-kira masuk akal nggak bikin mobil listrik?

    Balas
  • 4 Juli 2015 pada 11:22
    Permalink

    hop oloh
    didoakan saja supaya gol,

    kalau ditendang begitu, liat siapa yg terancam, pengusaha minyak toh?

    Balas
  • 4 Juli 2015 pada 13:16
    Permalink

    pasti berujung sama seperti DI #miris

    Balas
  • 4 Juli 2015 pada 13:39
    Permalink

    Gak akan lolos uji emisi, hehe…

    Balas
  • 4 Juli 2015 pada 13:58
    Permalink

    Paling dielu-elukan diawal doang sama pemerintah. Ibarat orang pacaran, manisnya pas PDKT aja.

    Balas
  • 4 Juli 2015 pada 14:39
    Permalink

    mang kowi sudah dapet bolu dari luar, ada yang coba serobot, bisa ditendang ini

    Balas
  • 4 Juli 2015 pada 15:01
    Permalink

    klo g didukung berarti STUPID MY COUNTRY INDONESIA

    Balas
  • 4 Juli 2015 pada 16:07
    Permalink

    Bikin motor berbahan bakar mercon saja. Pasti rame. Dar dor dar door. Daripada motor bertenaga setrum. Suara senyap akhirnya tak dianggap. Negara dengan segudang talenta yang dibiarkan percuma.

    Balas
  • 4 Juli 2015 pada 18:00
    Permalink

    Semoga brojol dengan slamet..

    Balas
  • 4 Juli 2015 pada 22:07
    Permalink

    pasti para pengusaha ATPM jepang gak akan tinggal diam. Mereka berusaha njegal..yakin deh. Wong pasar indonesia menggiurkan kok

    Balas
  • 4 Juli 2015 pada 23:03
    Permalink

    Harganya pasti nggilani… berkali2 lipat, so ketendang sendiri krn ngga bisa bersaing

    Balas
  • 5 Juli 2015 pada 18:31
    Permalink

    Pilihan tepat bagi insinyur2 kita adalah memgabdi diluar negeri, membanggakan negara dengan kabar berita putra-putri Indonesia sukses diluar negeri… Dari pada hidup didalam negeri tanpa bisa membanggakan negara (?).

    Balas
  • 5 Juli 2015 pada 18:37
    Permalink

    mengapa Indonesia tidak bisa seperti india? menggandeng negara2 maju untuk mengembangkan telnologi sendiri (hero, bajaj, tvs) padahal pabrik motor jepang di Indonesia lebih banyak dari pada di jepang sendiri? Rakyat Indonesia hanya bisa menjadi kuli di negaranya sendiri tanpa ada ilmu yang didapat…. inilah romusha masa kini. Dulu kita dijajah secara fisik, sekarang kita dijajah secarah keilmuan.

    Balas
  • 4 Mei 2016 pada 15:07
    Permalink

    indonesia gitu loh..politikusnya pd carmuk…skrg yg lg rame korban sandera abusarap djemput pk pesawat pndiri slh satu partai …kliatan bgt carmuknya…lmy modal bwt pmilu nnti

    Balas

Monggo Tinggalkan Komen Sini Gan, Isian Kolom 3 Pake http://www.... Bila Susah Kosongin

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: