Segmen 250 cc Itu Lebih Kejam dari Ibu Tiri, Salah Dikit Gak Laku

Yamaha R 25
Yamaha R 25

Segmen 250 cc Itu Lebih Kejam dari Ibu Tiri, Salah Dikit Gak Laku. Mas bro sekalian, liat poto mbah Sulis Panawuan di atas, mmm kelihatan adem ayem, karaoke sambil nyanding R25 kesayangannya. Nampak begitu puas dengan tunggangannya yang dimodif keren. Ini prototype konsumen yang begitu menikmati dan bangga akan tunggangannya gan. Nah kondisi ini tentu berseberangan dengan para marketing atau sales khusu R 25 ini, pontang-panting sana-sini berusaha agar jualannya laris. 

Yamaha Jozz di Ekspor, Berat di Domestik

Ya, untuk Yamaha, memang acung jempol urusan Ekspor R 25 ini, bisa dibilang cukup laris gan, namun untuk pasaran domestik memang kudu berpikir keras gan. Ya ertahan dari seangan Ninja saja berat, betapa tidak, untuk berat, ee Honda malah mengeluarkan CBR250CC, malah lebih berat lagi tentunya bagi Yamaha.

Ya kalau dibilang jujur, motor ini sudah sangat oke punya lho gan, power mumpuni, model unik, enak dikendarai. James Bons akui, mengendarai R 25 ini jauh lebih nyaman dan lebih gampang daripada mengendarai Ninja 250. Power R 25 juga lebih besar, top speed juga lebih tinggi, namun ternyata itu semua belum cukup untuk merecoki penjualan Ninja 250 di Negeri ini.

Curhatan Pak Abidin

Kalau ngintip data Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia (AISI), pada periode Januari-Maret 2017 saja dulu gan, penjualan R25 hanya mencapai 506 unit. Miris gan, hanya seperenam dari perolehan pesaingnya, Honda CBR250RR, yang laku 3.136 unit di periode sama. Padahal CBR adalah new comer.

Nah, menanggapi hal ini General Manager After Sales and Public Relation YIMM, M Abidin, mengaku telah memprediksi bahwa segmen motor sport bermesin 250 cc akan sulit berkembang di Tanah Air. Berikut statmennya beberapa waktu lalu ngutip dari viva:

“Dari awal kami sudah ngomong, segmen ini enggak akan berkembang. Permintaan itu 3-4 ribuan unit saja,”

Menurutnya harga jual yang mencapai sekitar Rp60 juta tak sebanding dengan biaya promosi untuk memasarkan produk tersebut.

“Semua merek jual segitu. Enggak sebanding dengan biaya promosi yang gila-gilaan.”

Lihat Pasaran Januari-Juni

PENJUALAN-SPORT-250CC-SEMESTER-1-2017
PENJUALAN-SPORT-250CC-SEMESTER-1-2017

Nah, kalau melihat pasaran sport 250 cc dari periode Januari-Juni, CBR yang New Comer, bisa menang secara keseluruhan dari Ninja, tapi angka Ninja juga tidaklah buruk, hanya selisih beberapa ratus saja gan. Sementara R 25, berat gan.

Kalau di tengok ke belakang, memang ya modal musti besar. Ninja modalnya adalah wibawa sebagai first mover yang nampaknya sudah meleka di hati masyarakat. Motor Sport ya Ninja, nampaknya sudah melekat di hati masyarakat yang perlu usaha besar untuk mengusiknya. Sementara CBR, mm statmen Pak Abidin di atas memang dikatakan mak jleb, tepat sesuai kenyataan di pasar. Untuk mendapatkan angka penjualan 5 rebu skian seperti tabel di atas, honda musti merogoh kocek yang cukup dalam. Berbagai event khusus berkenaan dengan CBR250RR ini digelar, mulai dari launch super wah, test Ride, touring, balapan, modif kontest, bahkan Honda hingga rela meminjamkan untik-unit CBR250RRnya ke media dan blogger. Mmm bisa kebayang kan, berapa cost yang harus di keluarkan.

Nah, perkara cost inilah yang mungkin membuat Yamaha agak mengendurkan penetrasinya di segmen 250ini gan. Sebuah artikel pernah di rilis oleh seorang blogger Senior yang menginspirasi James Bons untuk ngeblog, yakni mas Juragan Rondo, Rudi Triatmono. Belaiu ini pernah merilis kalkulasi modal atau kekayaan Honda dana Yamaha, Kalau tidak salah, beliau menulis bahwa modal Honda itu secara global, 7 kali lipat modal Honda weh, ngeri. Makanya wajar jika dalam mempromosikan CBR250RR betul-betul all out.

Na, perkara bagaimana margin untungnya, hehehe ini yang James Bons gak tahu sama sekali gan. Berapa yang dikeluarkan Honda untuk memproduksi CBR250RR dan berapa biaya untuk promosi dan marketing, lalu berapa untungnya, atau malah harus disubsidi dari motor lainnya ya hanya Allah dan orang AHM yang tahu. Sementara bagi Yamaha, ya boleh jadi memang ini bisnis, pastinya promosinya dikalkulasi dengan keuntungan, jadi kalau terlalu royal ya bisa berabe kan gan.

Yamaha mungkin berpikir realistis saja, untuk bersing dengan goliath tak harus head to head, Yamaha menyerang dari sisi lain, yakni dengan penjualan X-max 250, N-max, dan Aerox 155. Lalu dengan legowo melepaskan ambisi untuk bersaing di sport 250.

Berkaca dari kasus inilah makana Suzuki nampaknya adem ayem saja, tidak ngoyo untuk segera mengeluarkan sport 250. Ya apa lagi kalau bukan merujuk pada statmen pak Abidin tadi bahwa cost yang dikeluarkan terlalu besar, sementara pasar sudah mulai stagnan.

BTW, Yamaha tak sendirian dalam hal ini gan, tengok saja Kawasaki yang gagal dengan Z250SL lha setengah tahun cuman laku 23 unit.

Nah di akhirnya, bahwa bermain  di segemen 250 memang betul-betul musti telti dan hati-hati, senggolannya begitu kejam, lebih kejam dari ibu tiri, meskipun ya tak semua ibu tiri ganas lho gan aihihihi. Sementara pasarnya uman dikit alias terbatas.

Ya sedikit coretan, yang pastinya sangat kurang dan jauh dari sempurna.

Advertisements
Advertisements

12 Comments

  1. tulisan-ne bernas tenan……… apik om
    gak kayak bbrp blogger senior lainnya yg sama sekali gak bermutu.

Monggo Tinggalkan Komen Sini Gan, Isian Kolom 3 Pake http://www.... Bila Susah Kosongin