Touring Bersama Bang Tigor (3) | Bonsaibiker

Touring Bersama Bang Tigor (3)

Di Klaten ternyata bro Mertini sang empunya Kitab Sakti Kolor Ijo menyambut kami dan mengajak mampir ke rumah Orang tua Beliau. Asik juga ngobrol dengan bro martini ini, ramah, banyak cerita, dan seakan kami adalah sehabat lama yang bertemu kembali, padahal melihat nya secara langsung saja baru kali itu.Begitujuga orang tua Bro martini ini juga sangat ramah hingga kami kerasan berlama-lama. Saking asiknya ngobrol hingga abngku tercinta terlelap tidur beberapa jam. Selanjutanya bersama Bro Martini perjalanan kami lanjutkan ke Jogja dan Bantul.

Tepatnya waktu Maghrib menjelang Isa’ kami tiba di rumah Bro Martini dan Shalat Maghrib berjamaah di Masjid dekat rumah beliau. Saat kami berbincang di rumah beliau sambil menyantap makan malam hidangan Martini’s family tiba-tiba ada suara kluthak ada tai cicak jatuh, ternyata si empunya tai cicak Bro Al-Rozi aka Eksekutif Muda datang bersama Pak Kepala Suku, Bang One, dan Bro Moko TVS Rider. Kamipun ngobrol asyik dengan soheb-soheb chapter Jogja ini, ternyata mereka betul-betul ramah dan seakan-akan sudah seperti saudara sendiri. Kami sempatkan berjepret ria di depan rumah Bro Martini.

Saat itu kebetulan lampu Bang Tigor bermasalah dengan lumernya timah solderan belakang bohlam. Saat  aku mandi ternyata bohlam bang tigor dibawa ke rumah Mas Wakhid untuk dibetulkan, wah jadi malu nih ngrepotin Bro semua, dan tak ku sangka lho mereka begitu perhatian. Trims buanyak lho buat Mas Bro chapter Jogja semuanya. Dan yah sangat disayangkan hanya bohlam bang tigor saja yang bisa bersilaturrahmi ke bengkel Mas Wakhid, berhubung waktu itu malam, dan aku tak tahu kalau ternyata di solder di sana. “berharap suatu nanti bisa bersilaturrahmi ke sana”.

Selanjutany kopdar kami teruskan di Alun-alun Bantul dengan menyruput Bajigur minuman khas soheb-soheb Bantul. Canda tawa, ngobrol ngalor-ngidul, berakrab ria kami lakukan hingga tak sadar waktu menunjukkan jam setenga sebelas malam. Kamipun sepakat mengahiri kopdar dan pulang ke rumah masing-masing, sementara aku dan abangku ngintil ke rumah Bro Al-Rozi.

Sesaat kami mampir ke rumah pendekar Tai Cucak ini melihat sendiri karya beliau chips rumput laut merek Pelangi, dan berbagai kerajinan tangan dari kulit ikan Pari. Dalam hati iri juga melihat usia yang muda tersebut tapi sudah menghasilkan begitu banyak karya. Tak kusangka waktu sudah lewat jam 00 dan kamipun pamit.

Kugeber Bang Tigor menembus sepinya malam diantara temaram bintang, dan tanpa keberatan sedikitpun Bang Tigor dengan penuh pengabdian berlari membawa kami berdua menuju solo, kemudian Karang anyar, dan selanjutnya menembus pekatnya hutan di jalur Tawangmangu-Sarangan yang merupakan tanjakan amat terjal, berkelok, dan sunyi sepi. Kembali kami disambut  oleh kabut di daerah Cemoro Sewu yang dingin menggigil. Kami sempatkan berhenti sejenak di warung kopi yang kebetulan ada di tengah belantara hutan Gunugn Lawu untuk menghangatkan diri, sambil melihat kebawah tampak indah kemerlap lampu kota Magetan dari kejauhan. Waktu menunjukkan Jam 03 dini hari, kamipun melanjutkan perjalanan menembus dinginnya Cemoro Sewu yang gelap gulita, berkelok dan curam, serta sepinya hutan gunung tersebut menuju Magetan my loved home town. Tepat jam 04 pagi kami sampai di rumah, Alhamdulillah.

Dari touring tersebut kurasakan hangatnya keakraban soheb-soheb jogaja. Trims Om Hadiyanta, Bang Irwan Kurnianto, Bro Martini Sekeluarga, Bro Moko, dan tentunya bro  Al-Rozi. Ingin rasanya suatu saat nanti mengunjung lagi kota ini, bersilaturrahmi ke rumah Kepala Suku, Bang One, dan Bro Moko. Ingin juga sowan bersilaturrahmi lagi degan Orang tua Bro Martini, juga amat ingin sowan minta petuah kepada pak Kiyai Al-Rozi senior, ya Allah semoga suatu nanti masih diberi kesempatan. Amin.

%d bloggers like this: