Jalan Desa Ditembok Beton

Bonsaibiker.com – mas bro sekalian,sebuah berita unik dari Sragen. Sebuah Jalan Desa Ditembok Beton di Sragen, 10 KK Terisolasi lantaran tak bisa keluar melintas. Harus muter. Hal ini terjadi Konon Lantaran Jengkel.

Jalan Desa Ditembok Beton
Jalan Desa Ditembok Beton

Mas bro, pasca ebuah Jalan Desa Ditembok Beton ini, 10 KK di satu RT 18, Dukuh Ngledok, Desa Gading, Kecamatan Tanon, Sragen bingung dan resah Laantaran tak punya akses jalan. Ya pastinya terisolasi.

Jalan selebar 3 meter itu ditutup dengan tembok herbel oleh salah satu warga. Yakni dari keluarga Mbah Sonem (55). Kejadian ini adalah pada Senin (3/8/2020) pagi.

Mas bro, bata hebel yang miripdengan batako ini adalah jenis beton konvesional yang dalam pembuatannya mengganti material kerikil dengan gelembung udara. Konon sih dalam produksinya menggunakan busa organik yang kurang stabil. Jadi dengan busa ini gak ada reaksi kimia saat pencampuran. Lalu busa ini hanya berfungsi sebagai media pembungkus udara. Bata jenis ini seperti terlihat di atas, berwarna abu-abu, lantaran berbahasn pasir sungai atau pasir tambang.

Mas bro sekalian, setelah kejadian Jalan Desa Ditembok Beton ini, foto-fotonya viral di sosial media. Salah satunya adalah oleh akun fb Heri Rebbin ke group FB KECAMATAN TANON 14 jam lalu dengan postingan berikut :

Tulung dulur2..niki kok jalan.ngledok,gading,tanon,sragen. ditutup…sedangkan dari simbah’y dulu ini tanah dikasih jalan buat anak cucu’y..tapi kenapa kok ditutup gini..mohon penceramahan’y..

Kemudian mediapun juga meliput. Salah satunya adalah Joglosemar yang menutip keterangan salah satu warga RT 18 yang tertutup tembok, yaknibernama Heri. Warga ini menyatakan bahwa penutupan dengan tembok herbel ini dilakukan pada Senin tadi oleh kerabat Mbah Sonem.

Memang dulunya jalan ini adalah pekarangan pribadi Mbah Sonem, lalu dibuat jalan tembus. Lebar jalan tersebut adalah kurang lebih 2,5 meter lalu panjang masuk sekitar 20 meter. Kala itu, Mbah Sonem sudah mengikhlaskan untuk jalan tembus namun setelah pekarangan itu diberikan anaknya, tanah untuk jalan itu ingin diminta kembali.

Bermula Karena Jengkel gak Diuwongke

Sementara itu Kades Gading, Puryanto menyatakan bahwa penutupan jalan dengan tembok beton herbel oleh salah satu warga di Ngledok itu atas Izinnya. Ia menjelasakan bahwa jalan ini bukan jalan umum atau jalan desa. Jalan ini dibuat dari tanah-tanah pekarangan pribadi milik para warga.

Menurut pak kades ini, keluarga mbah Sonem ini datang ke desa lantaran merasa nggak diuwongke atau dihargai oleh warga di situ. Makanya keluarga ini nggak terima. Lalu kemudian mereka minta izin mau minta kembali pekarangan yang telah jadi jalan tersebut. Karena itu memang tanah pribadi.

Lebih jauh, Puryanto menyampaikan bahwa penutupan jalan tersebut lantaran keluarga Mbah Sonem merasa tidak pernah dimintai persetujuan. Bahkan keluarga ini juga menolkan walaupun tanahnya mau dibeli warga Ngledokbuat jalan. Jadi menurutpak lurah ini, warga Ngledok dulu nggak bilang, tahu-tahu langsung dibangun jalan sampai 3 meter.

Kabarnya sih mas bro, warga yang terdampak, juga menyadari bahwa yang ditutup adalah pekarangan pribadi keluarga Mbah Sonem.